Yang dinanti benar-benar pada kondisi normal lagi. Tapi tak bisa dipungkiri, dalam kenyataan belum pulih benar. Angka penderita terserang Covid-19 di Kota Tasikmalaya, dalam kondisi bertambah. Sedikitnya terkonfirmasi dari Satgas Gugus Tugas Covid Kota Tasikmalaya, adanya tiga orang positif.

Dengan bertambahnya tiga kasus terkonfirmasi positif, jumlah kasus positif Covid-19 di Kota Tasikmalaya menjadi 53 orang. Tujuh orang di antaranya saat ini masih menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit yang ada di wilayah kota. Keterangan ini datang dari juru bicara Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Tasikmalaya, Uus Supangat.

"Kami sebar (pasien terkonfirmasi positif covid ini) di sejumlah rumah sakit, sesuai keinginan pasien," jelas Uus Supangat yang juga kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya itu, Kamis (10/9) sore. Ketujuh pasien ini terkonfirmasi dari hasil swab test yang dilakukan Dinas Kesehatan, baik yang bersifat massal maupun perorangan.

Sementara 43 orang penderita dari 53 orang itu sudah dinyatakan sembuh. Sisanya tiga orang lagi meninggal dunia. "Ini data akumulasi sejak kasus Covid-19 muncul April lalu," ujar Uus. Pejabat ini pun meminta, warga berdisiplin dalam menerapkan protokol kesehatan cegah Covid-19. Salah satu penyebab bertambahnya kasus positif karena warga kurang perhatian.

"Warga dituntut tetap berdisiplin antisipasi penyebaran Covid-19. Terutama memakai masker, jaga jarak, dan tidak bersalaman atau bersentuhan langsung," pinta Uus. gus


 

Komisioner KPAI, Retno Listyarti, Kamis lalu, mengunjungi SMP Negeri 1 Rajapolah, Kab.Tasikmalaya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), melakukan pantauan terhadap sekolah-sekolah untuk memastikan kesiapan lembaga-lembaga pendidikan itu, bisa-tidaknya melaksanakan pola pembelajaran tatap muka di masa pandemi Covid-19. Namun kemudian dalam pernyataan, umumnya sekolah masih harus menerapkan pembelajaran daring.

Harapan melaksanakan pola pembelajaran tatap muka (PTM), masih entah sampai kapan. Komisioner KPAI, Retno Listyarti, mengungkapkan, dari puluhan sekolah di Indonesia yang dikunjungi terkait kesiapan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka, hanya satu sekolah yang sudah siap.

Sudah beberapa kota timnya kunjungi. Baru satu sekolah dikatakan siap. Sekolah tersebut adalah SMK Negeri 11 Kota Bandung. "Jadi hanya satu sekolah yang sudah siap. Lainnya masih harus dibenahi lagi," kata Retno, saat meninjau kesiapan SMP Negeri 1 Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (10/9).

Pengakuan Retno, setidaknya dirinya sudah mengunjungi 31 sekolah yang tersebar di wilayah Indonesia. Hampir semua rata-rata belum siap. "Yang sudah siap hanya satu yaitu SMK Negeri 11 Kota Bandung. Dari mulai insfrastruktur hingga tenaga pendidiknya. Sebanyak 15 item parameter layak tidaknya sudah terpenuhi," ujar Retno.

Bahkan bilik disinfektan di SMK Negeri 11 Kota Bandung menggunakan bahan-bahan alami yang sudah teruji efektivitasnya. "Termasuk juga disinfektan untuk kendaraan yang masuk," katanya.  Namun begitu, bisa-tidaknya SMK Negeri 11 Kota Bandung melakukan KBM tatap muka, tetap tergantung kebijakan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 setempat.

"Pernyataan kami pun bukan merupakan sebuah rekomendasi. Itu hanya hasil peninjauan lapangan. Karena faktor lain pun mesti diperhitungkan," sambungnya. Yang paling krusial adalah perjalanan anak, baik berangkat maupun pulangnya. "Kalau anak naik angkutan umum, sudah tentu ini juga berisiko dan harus masuk bahn pertimbangan," susulnya. gus

 


"Ngopi Bareng Media" BPJS Kesehatan Cabang Tasikmalaya

Iuran menunggak dari peserta JKN, masih jadi tantangan dalam kinerja BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Hingga kelembagaan ini mengalami defisit dalam angka cukup besar dari tahun ke tahun. Soal kesadaran warga dengan latar belakang pemahaman dan kemampuan ekonomi, antara lain jadi aspek tersendatnya aliran dana iuran.

Dalam beberapa hari ini, BPJS Kesehatan memutuskan untuk memberi relaksasi (keringanan) bayar tunggakan iuran program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi mereka yang menunggak antara 6 – 24 bulan. Program relaksasi tunggakan, cukup jadi kesempatan bagi peserta layanan kesehatan ini untuk kembali mengaktifkan jaminan kesehatan kepesertaannya. Iuran tersendat lebih banyak asal kalangan peserta mandiri.

Dalam satu forum pertemuan bertajuk “Ngopi Bareng Media” dengan unsur pimpinan BPJS Kesehatan Cabang Tasikmalaya mengemuka, program relaksasi dikeluarkan bersamaan pandemi Covid-19 yang begitu mengganggu tatanan kehidupan beberapa bulan terakhir. Wabah ini menunda berbagai aktivitas masyarakat, menggoyahkan aktivitas ekonomi.

Arahan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Tasikmalaya, Agus Ramlah Hidayat, meyakinkan program ini mesti jadi kesempatan bagi peserta JKN-KIS mengaktifkan kembali kepesertaannya akibat tunggakan iuran. Program yang sengaja dihadirkan untuk meringankan secara finansial masyarakat, khususnya bagi peserta JKN-KIS di masa pandemi Covid-19.

Hal perlu dicatat dari relaksasi ini, sambung Agus didampingi Kabid SDM Umum dan Komunikasi Publik, Moh.Rizal Idris, bagi yang menunggak dalam rentang 6-24 bulan, kepesertaannya akan aktif kembali bila membayar enam bulan tunggakan //plus// satu bulan berjalan. Yang tercover program ini, tunggakan hingga Desember 2020. Untuk dapat keringanan, peserta JKN harus mendaftar ke kantor BPJS terdekat atau melalui aplikasi yang sudah disediakan BPJS. gus


Dikri Saeful Ansori,

Pada beberapa hari ini, Dikri Saeful Ansori, demikian sosok mahasiswa satu ini, boleh dikata tengah membanggakan keluarga hingga warga kampus tempatnya studi, di Universitas Perjuangan (Unper) Tasikmalaya. Uji kreativitasnya yang menyertai studi, masuk nominasi Pemilihan Mahasiswa Berprestasi 2020 tingkat nasional.

Sejak ajang kompetisi itu dibuka, tahap demi tahap diikuti mahasiswa semester 7 Agribisnis Unper ini. Beranjak ke jenjang tersebut setelah terpilih di tingkat kampusnya. Dan, sekarang ini ia nominator dalam tiga besar asal mahasiswa Jawa Barat. Menyisihkan puluhan lainnya, yang tengah dalam penilaian tim di tingkat nasional.

Dalam satu obrolan dengan mahasiswa kelahiran Juli 199 itu, proses peniaian demi peniaian di tingkat nasional berlangsung setelah ikut pendaftaran sekitar Juli lalu. Aspek penilaian melalui beberapa tes. Dimulai seputar kemampuan akademik, capaian prestasi, kemampuan berbahasa Inggris, wawasan kebangsaan.

Peniaian lomba selain itu, aktivitas dalam berorganisasi. “Jadi, yang saya dapat di aktivitas berorganisasi ini tekanan atau pesannya, bagaimana kita dapat memberi manfaat pada lingkungan sosial kemasyarakatan. Berkampus tak hanya mementingkan aspek akademis,” akunya.

Seterusnya, penilaian terhadap karya tulis ilmiah. Berisi tentang ide-ide kreatif. Yang jadi bahasan penelitian Dikri, pemberdayaan masyarakat pesisir pantai, terutama kalangan ibu-ibu nelayan. Hingga menghasilkan tepung kerang Sinping, atau jadi produk permen kalsium kerang Sinping.

Banyak dapat pengalaman

Untuk hasil penilaian siapa-siapa layak menyandang predikat Mahasiwa Berprestasi Nasional 2020, akan diumumkan sekitar akhir September. Saat ditanya bagaimana dengan harapan kejuaraan di ajang itu, yang spontan ditegaskan Dikri, dirinya saat ini merasa justru lebih banyak memetik makna bernilai yang itu lebih dari sekadar juara.

“Mungkin bagi saya, predikat juara itu sebagai bonus saja. Hal penting lainnya dirasa begitu banyak. Setidaknya saya mungkin dapat menginsprasi teman-teman khususnya di Agribis, untuk terus mengembangkan kemampuan dan mengabdikan diri, demi kebaikan-kebaikan,” sebutnya.

Jangan minder dengan soal dari mana berkampus. Nyatanya, ia raih buah perjuangan asal kampus Unper ini masuk nominasi tiga besar Jabar, menuju penilaian tingkat nasional. Dirinya senang dapat membawa nama harum kampus. “Saya juga terus yakin di kampus Unper ini banyak potensi untuk dikembangkan,” katanya.

Jadi, ulasnya, jangan ada rasa minder. Hal lain yang ia petik dari kesertaan ikut pemilihan mahasiswa berprestasi halnya, tantangan untuk terus mengembangkan diri. Lantas, jadi banyak teman, banyak pengalaman. Malah, tambahnya, mulai ada kalangan-kalangan yang menghubungi, mulai asal organisasi mahasiswa sampai dunia industri. “Pokoknya jadi nambah teman baru, relasi baru. Ada rasa kebanggaan masuk nominasi even penilaian tingkat nasional ini,” bebernya.

Anak pertama dari lima bersauadara penduduk Ciawi, Kab.Tasikmalaya ini menambahkan juga, ikut-ikut ajang kompetisi, sejak di bangku SMA. Saat di bangku SMA ikut lomba pidato Bahasa Arab antar-pesantren, jadi juara pesantren sewilayah III Cirebon. Begitu pun sebelumnya menjuara lomba sama tingkat  Kab. Indramayu. Kemudan, di Unper pada 2017, sempat menjadi duta kampus dalam MUN di Malaysia. Terpanggil dalam kegiatan pengabdian masyarakat Jabar ikatan mahasiswa Sosek, dan menjadi peserta ajang Kemah Bakti Nasional.

Sangat memberi apresiasi

Terpisah, dalam perbincangan dengan Wakil Rektor Unper, Prof H Dedi Heryadi menyatakan, pihaknya atas nama lembaga tentu sangat memberi apresiasi atas spirit belajar yang ditunjukkan Dikri. Hal ini tentu akan menjadi tauladan bagi yang lainnya. Selain tentunya ia telah mewangikan nama kampus.

“Apa yang digapai hingga perjalanan Dikri di tahap penilaian itu sekarang, sangat sejalan dengan harapan kita atas kampus ini untuk menghasilkan generasi-generasi unggul. Karena itu, kita sangat apresiasif. Kita sangat dukung. Saya pun sudah perintahkan agar apa-apa yang menjadi kebutuhan Dikri, difasilitasi,” imbuh Prof Dedi. gus

Kabar hilangnya seorang gadis, menjadi berita berbagai media liputan asal Tasikmalaya, beberapa hari ini. Sosok belia berparas cantik ini namanya, Monayuta Tiara Meisani (18). Ia dilaporkan hilang sejak Kamis (3/9).

Penduduk Kp.Citundun, Desa Mandalawangi, Ke.Salopa, Kab.Tasikmalaya itu, selama ini tinggal bersama neneknya. Orangtuanya tinggal di Jakarta. Setelah kejadian menghilang, keluarganya tak bisa melakukan komunikasi. Ponsel Monayuta dalam kondisi mati.

"Anak saya pergi dari rumah ibu saya di Citundun sejak Kamis. Hingga sekarang tidak ada kabar beritanya," ujar Ade Nurlaela, ibu kandung Monayuta, saat dihubungi, Senin (7/9).

Pengakuan Ade dengan nada sendu, sudah melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian. "Saya sudah lapor ke polisi dan polisi pun tidak bisa melacak lokasi anak saya karena HP-nya mati," ujar Ade.

Ade berharap siapa saja yang sempat melihat anak kesayangannya itu segera menghubungi dirinya dengan nomor 081288223075. Ciri-ciri fisik Monayuta, berambut sebahu warna coklat, bertinggi badan semampai 160 cm.

"Saat meninggalkan rumah, Monayuta mengenakan kaus putih, suiter warna pink serta celana jins biru," sebut.

Sempat Dikabarkan ada di Kota Tasik

Dalam upaya pencarian keluarga bersama aparat kepolisian, Senin (7/9) sore, keterangan ibunya, dapat kabar anaknya ada di Kota Tasikmalaya. "Katanya ada yang melihat dengan ciri-ciri anak saya ada di Kota Tasik," ujar Ade.

Namun begitu, kata Ade, pihak keluarga belum berhasil menemukan Monayuta walau sudah ada info keberadaannya di Kota Tasik. Pun sejauh ini, belum mengemuka apa yang kemudian Monayuta, meninggalkan rumah tinggalnya.

"Kami berharap jika ada yang menemukan anak saya dengan ciri-ciri di atas dapat segera menghubungi kami," kata Ade. fir

Tasikplus

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/W-JRJTUDA6Pp2A511aWOLloJnEbtPE-IO8Q6lTekQ0B1zTZVQ7Qz8Y1b7mgcjQvlw8e8mglom-Iyyg=s599-no} Tasikplus menyuguhkan kabar seputar Tasikmalaya dan wilayah sekitarnya {facebook#https://www.facebook.com/Tasikplus/} {twitter#https://twitter.com/skutasikplus} {google#https://plus.google.com/+SKUTasikplus} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UChrZkFoikBU9_r7s4pFafcg} {instagram#https://www.instagram.com/tasikplus/}
Diberdayakan oleh Blogger.