Jadi opsi bercocok tanam lebih bernilai ekonomi. Terutama di penanaman padi seperti sudah dilakukan sebagian petani, dengan berpola tanam organik. Sedari awal banyak disampaikan bermodel tanam ini lebih menjanjikan nilai plusnya. Namun, di perjalanan sampai sekarang, pengembangan pola tanam ini di Priangan Timur terpotret stagnan.
Tak banyak mengalami perkembangan, sejak aspek luasan tanam atau arealnya, jumlah petaninya. Sehingga dalam giliran belum banyak mendongkrak produktivitas lahan yang melejit. Model tanam ini menjadi bahan desertai akhir akademik strata III, Dr D Yadi Heryadi Ir MSc, wakil rektor di Universitas Perjuangan (Unper) Tasikmalaya.
Melayangkan beberapa pertanyaan terhadap sosok akademisi yang masih hangat menamatkan studi doktornya, dia jawab seputar gambaran aktivitas tanam padi organik yang terus tersimpulkan, sampai saat ini masih dihadapkan kendala aktivitas pengolah lahan, pengalihan pola tanam dari model konvensional ke model organik.
Ada yang menyebut juga, pola tanam organik ini dengan konsep SRI (system of rice intencification). Dalam wilayah penelitian yang dilakukan Yadi guna keperluan desertasi itu, memotret aktivitas penanaman oleh para petani di wilayah Priangan Timur. Didapati catatan, belum menguat pengembangan luas lahan dan produksi padi pola organik.
/Selisih harga/
Dari beberapa wilayah dalam cakupan pemda di Priangan ada beberapa kab/kota terapkan pola SRI yakni, Kab.Garut, Kab-Kota Tasikmalaya, Kab.Ciamis, Kota Banjar, dan Kab.Pangandaran. Hitungan terbanyak lahan penanaman padi ini dimulai di Kab.Tasikmalaya, kemudian Kab.Garut, Kab.Ciamis dan Pangandaran dengan penanaman terbatas. Malah, di Kota Tasikmalaya dan Kota banjar, belum tampak aktivitas tanam padi organik.
Menyebutkan pola tanam ini yang terbersit di masyarakat, konsep tanam dengan proses, olah, dan hasil bebas residu pestisida. Sepanjang persiapan, olah tanam, tak menempatkan pemupukan pupuk anorganik. Proses itu bahkan diawali sejak pratanam pada lahan yang disiapkan. Lalu, menghasilkan padi dipanen dengan nilai jual di atas padi hasil cocok tanam konvensionl/biasa.
Kalau beras yang premium saat patokan harga sementaranya (versi pemerintah) per kilogram Rp 7.000, untuk jenis produk organik sampai Rp 20.00. Perbedaan harga sejak di penjualan gabahnya. Kalangan tertentu masyarakat hingga pemesanan luar negeri cukup meminati produk tanam secara non-organik ini. Di Kab.Tasikmalaya, satu kelompok tani bernama “Simpatik” dalam beberapa tahun terakhir menjual ekspor padi organik.
Tantangan Dihadapi
Sudah belasan tahun, sekalangan petani di beberapa daerah di Kab.Tasikmalaya, terbiasa melangsungkan usaha tanamnya dengan model aman dari bahan kimiawi asal pupuknya itu. Namun, saat pola tanam ini sudah berjalan lama, kenyataan belum mendorong perluasan tanam dan produksi yang signifikan.
Data laporan dua tahun ke belakang halnya, luas wilayah tanam petani Kab.Tasikmalaya, masih di angka 8.000 ha. Angka ini hanya sekitar 16% dari keseluruhan lahan pertanian di Kabupaten ini.
Dari analisi Yadi lagi, setidaknya ada lima subsistem yang masih menahan geliat masif pola tanam ini. Tiga di antaranya tantangan cukup dihadapi di kalangan petani terdiri soal aspek penyediaan pupuk yang tak melimpah, teknik budidaya tak banyak berkembang, dan keharusan bersertifikasi yang bertarif tak kecil.
Di aspek lainnya, soal kejelasan pasar penyerap produksi yang bisa mudah kapanpun petani mengaksesnya. Saat ini fokus jualnya, kalau di Kab.Tasikmalaya, melalui satu koperasi gapoktan. Di soal hasil tanamnya, banyak yang menyebutkan, hasil produk berpola tanam organik lebih tinggi. Namun, menurut Yadi, di soal itu relatif saja pada kenyataan sekarang.
Malah, ia lebih menekankan terhadap para pemangku kebijakan dengan aspek instannya pihak yang jadi penyerap hasil produksi ini. “Andai saja hasil produksi ini di lahannya setara dengan olah konvensional, itu masih enggak apa. Sebab, keuntungan petani bisa dipetik dari nilai jualnya yang jelas berbeda,” tambah Yadi pengajar Pertanian di Unsil itu.gus





Sejak terputus saat banjir bandang menimpa sungai Pasanggrahan, Kec.Cipatujah, Tasik selatan, jembatan di ruas jalan nasional, dalam opsi mendapat pemasangan alternatif dengan jembatan bailey. Guna melancarkan atau membuka kembali akses transportasi.
Dalam beberapa hari jembatan sementara itu dalam pengerjaan tim teknisnya, menyusul kejadian bencana alam Tasik selatan dua pekan lalu. Bagi para pengguna jalan arus Tasikmalaya-Pameungpek, Kab.Garut, masih harus bersabar hingga normalnya jalur Jawa Barat selatan ini.
Dari pantauan Tasikplus di titik terputusnya jembatan Pasanggrahan, hingga Jumat (23/11/2018), aktivitas pekerja masih fokus melakukan pengerjaan pemasangan/pemancangan tiang pancang/pasak bumi. Tiang itu sebagai penyangga jembatan.
Informasi yang diperoleh dari Hendra salah seorang petugas pengawas jembatan, pihaknya tengah berusaha mengebut pengerjaan jembatan bailey. Itu sesuai intruksi Gubernur Ridwan Kamil. Sebelum jembatan dibangun, ada pengerjaan penempatan tiang pancang.
Namun menyertainya juga, ada tahapan pekerjaan di kontruksi badan jembatan. "Kami akan terus mengebut pengerjaan pemasangan jembatan sementara ini,  targetnya dapat digunakan pada awal bulan Desember mendatang," terangnya.
Saat ditanya kekuatan jembatan untuk menahan bobot tonase kendaraan melintas kelak, menurut seorang pengawas lainnya, sesuai standar kontruksi //bailey// ini dapat dilewati kendaraan dengan berat maksimal 10 ton.
"Untuk aspek keamanan, selanjutnya kami akan lakukan aturan ketat untuk bobot tonase kendaraan yang melewati jembatan ini," pungkasnya.
Seperti diketahui, pada Senin (5/11) malam lalu, wilayah selatan di sebagian titik terkena banjir dan tanah longsor. Ada tiga kecamatan terlanda. Di Kec.Cipatuja, pada titik lokasi jembatan bailey terkena banjir bandang selain beberapa titik lainnya tergenang. Terparah loksi bencana di Kec.Culamega, hingga membuat ratusan warga mengungsi. ful




Pada Sabtu akhir pekan kemarin, Unsil kembali melepas lulusan. Prosesi pelepasan wisudawan melalui Sidang Terbuka Senat Universitas Siliwangi, Wisuda Program Diploma, Sarjan dan Magister, Periode I Tahun Akademik (TA) 2018/2019. Berjumlah seluruhnya 1.346 orang, asal seluruh program akademik dan fakultas yang ada. Pelantikan wisudawan berlangsung di Gedung Mandala kampus Unsil. Seperti biasanya, suasana di lokasi, Sabtu (24/11) sejak pagi hingga siang tampak padat. Dipenuhi pengantar wisudawan masing-masing keluarganya. Jumlah lulusan terbanyak hingga 593 orang dari FKIP, dan paling sedikit, 27 orang asal FISIP. Lulusan program magister, 32 orang. gus

Jembatan Cipatujah dalam ruas jalan nasional ini ambruk setelah ada banjir bandang yang melanda Sungai Pasanggarahan. Dalam beberapa hari memasuki pertengahan November ini, jembatan dalam opsi ganti dengan jembatan //bailey//, untuk melancarkan arus lalu lintas dan membuka keterisoliran desa-desa di seberang jembatan.
Beberapa hari lalu, hujan tiba dengan instensitas tinggi, setelah kemarau sekitar empat bulanan. Kekeringan lahan-lahan sawah dan kebun mulai berubah basah. Namun tak ayal musim hujan mengisahkan sejumlah daerah terkena bencana banjir dan longsor.
Dalam area kerja UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) WS (Wilayah Sungai) Cilaki-Ciwulan Tasikmalaya, Dinas PSDA Jabar, dikabarkan secara sporadis area pemukiman warga terkena banjir serta lahan terkena longsor. Dampak kejadiannya dirasakan panjang.
Seperti luapan air Sungai Cikidang menggenangi kawasan utara pantai Pangandaran. Sungai Tonjong meluap menimbulkan banjir di pusat kota Kec.Parigi, Pangandaran. Yang tak kalah mengejutkan bancana banjir dan longsor di selatan Tasikmalaya, hingga membawa korban nyawa di samping banyak titik terendam.
Terlaporkan ada enam warga meninggal di wilayah selatan Kab.Tasikmalaya. Bahkan, bentang jembatan panjang dan lebar di ruas jalan nasional, di Kec.Cipatujah, hingga ambruk, bersamaan datangnya banjir bandang, Senin (5/11) malam.
Ada kalangan mengaitkan merebaknya banjir dan longsor terkorelasi dengan tatanan lingkungan atau struktur alam yang sudah berubah, rusak. Hutan-hutan gundul, kurang pepohonan, membuat arus air langsung mengalir, tak tertahan meresap di tanah layaknya area yang berpepohonan.
Kepala UPTD WS Ciwulan-Cilaki Tasikmalaya, Dikky Ahmad Sidik, dalam keyakinan ikhwal pemicu merebaknya banjir-longsor di wilayah kerjanya, berkaitan dengan intensitas hujan yang turun tinggi. Bercurah hujan lebat dan berlangsung lama.
Kejadian banjir bandang hingga longsor di selatan Tasikmalaya, Senin (5/11) malam, yang kemudian merenggut nyawa enam orang, kata dia, sebelumnya turun hujan sangat lebat. Intensitasnya lebih dari biasa atau jauh dari angka curah hujan normal.
Jika BMKG menetapkan, hujan bercurah turun 50 mm (milimeter) saja sudah terkategori lebat. Hujan normal dalam curah 30-35 mm. Yang ia catat, ketika efeknya banjir merebak di selatan Tasik, pada Senin malam lalu itu, kondisinya bercurah hujan mencapai 493 mm. Malah, pada titik lain di sekitarnya sampai 500 mm.
Menyoal hujan deras ini seterusnya, beber dia, data di Balai Bendungan, pun ada curah periode 100 tahunan yang angkanya itu sampai 400 mm. “Yang kejadian kemarin 493, jadi tinggal menghitungnya saja. Ini soal curah hujan ekstrim, belum lagi saat peristiwa itu hujan turun berwaktu 12 jam,” ungkapnya, Kamis lalu.
Di soal mengukur curah hujan ini, kantornya memiliki alat pengukur. Ia pun memonitor turunnya hujan dalam wilayah kerja dengan satu aplikasi yang terlaporkan instan. Lainnya, seperti dengan kejadian meluapnya Sungai Cikidang di Pangandaran, data curah hujan yang ia pegang hingga 500 mm.
“Jadi, keyakinan saya ini dipicu soal curah hujan ini. Bisa dibayangkan kan, hujan turun dengan sangat lebat. Kemudian meluap dari sungai ke pemukiman. Pada kondisi lain, setelah lama kemarau, saat hujan turun otomatis membawa bagian permukaan tanah yang kering. Air tak banyak tertahan atau meresap. Pada kondisi lainnya, banjir terpicu kondisi sungai yang sudah mendangkal oleh sedimentasi, seperti temuan untuk Sungai Cikidang, Pangandaran,” bebernya.
Opsi penanganan ini dalam kewenangannya yang dimungkinkan, antara lain dengan pengerukan material dalam sungai-sungai. Material berasal abrasi tanah. Malah yang ia dapati di Sungai Cikidang, Pangandaran, endapan dalam sungai yang cukup meninggi itu asal pasir laut yang terbawa saat air laut pasang. gus



Tak banyak terprediksi. Mengiringi hujan yang kala itu turun lebat, lahan belakang Sekolah Dasar (SD) Putrapinggan, mengalami pergeseran tanah, dan puncaknya longsor menimpa satu rumah warga di sekitar sekolah, di Kp. Kp.Bojong, Desa Putrapinggan, Kec.Kalipucang, Kab.Pangandaran.
Peristiwa itu pada Senin malam lalu, hingga kini belum banyak langkah diambil. Petugas yang bersiap menyambangi lokasi terhalang tanah longsor juga di lokasi sebelum sampai sekolah. Menuju sekolah itu, melewati ruas jalan desa berkelok dan naik-turun, cukup berjarak.
Dalam satu obrolan bersama Kepala SD, Samsu SPd, pihaknya langsung mendatangi rumah yang terkena longsoran tanah sekolah itu. Kondisi rumah dalam keadaan rusak berat. Barang-barang milik yang punya rumah rusak, tak terselamatkan. Kecuali padi dalam karung seadanya.
Gunungan tanah langsung menguruki/menimbun rumah, sejak bagian atap hingga pada akhirnya ambruk. Tak ada korban jiwa akibat kejadian ini. “Dari keterangan warga di sekitar rumah, awalnya pemilik rumah mendengar suara krek... krek...krek di bagian atap rumah.
Mendapati suara itu pemilik rumah coba mencari tahu. Akhirnya didapati material tanah yang melongsori rumahnya, mulai menimbun genting, berasal dari lahan sekolah. Terus menumpuk, dan tak lama rumah amburk. Dalam rumah ini hanya ditinggali dua orang, terdiri ibu dan anak perempuan yang sudah berusia dewasa.
“Saya tak dapat membayangkan kalau mereka bertahan, mengabaikan suara asing dalam rumah yang seterusnya ambruk. Mereka sempat memilih ke luar, sehingga korbannya hanya rumah berikut barang-barang di dalamnya. Sosok kepala rumahtangga dalam keluarga ini, tengah bekerja di luar kota.
Setelah menyampaikan bela sungkawa, tak lama berselang, Samsu terus melaporkan kejadian ini ke unit kerja dinasnya, ke BPBD. Mengenai soal bantuan kelak berupa apa bagi korban pemilik rumah, katanya, belum diputuskan.
Diungkapkan Samsu, bencana ini di luar dugaan. Dirinya pun tak menyangka. Pastinya lagi, bencana alam tersebut tak sampai mengganggu aktivitas pendidikan di sekolahnya. Pembelajaran sekitar 60 orang murid dalam enam kelas, dibimbing enam orang gurunya, berlangsung seperti biasa.
“Meski itu sempat menghadirkan rasa cemas, dan trauma di kalangan orangtua murid, aktivitas belajar berlangsung biasa-biasa saja. Kejadiannya kala itu, sekitar pukul 20.00an, Senin (5/11) malam,” imbuhnya. SD ini berdiri di atas lahan 7.660 m2. Lahan yang bergerak dan longsor di belakangnya.gus


Hujan yang turun dengan intensitas tinggi di wilayah selatan Kab.Tasikmalaya, selain membuat tergenang beberapa perkampungan, sebelumnya pada akhir Oktober lalu, mengisahkan ambrolnya saluran irigasi Padawaras. Saluran irigasi yang ambrol, mengairi ribuan hektar sawah dan ladang di wilayah lokasi irigasi, Kec.Cipatujah, Kab.Tasikmalaya.
Dampak rusaknya sumber pengairan ini bisa menyendat/terputusnya aliran air ke lahan warga. Hal itu seperti dikemukakan kepala desa setempat. "Praktis aliran air ke beberapa desa di Cipatujah,terputus. Padahal saat ini memasuki musim tanam seiring mulainya turun hujan," kata Kepala Desa Bantarkalong, Yayan Siswandi, Selasa pekan lalu.
Kejadian ambrol, sambungnya, Minggu (28/10). Berada pada saluran primer dengan konstruksi beton persegi memiliki lebar sekitar 2,5 meter. Dengan panjang kerusakan sekitar lima meter. Akibatnya, pasokan air terputus. Lahan pertanian yang akan mengalami sendatan jika tak segera ditangani, di Desa Bantarkalong, Darawati, Padawaras, Kertasari dan Desa Sindangkerta.
Kepala desa berharap, ini segera ada penanganan. Titik lokasi saluran yang ambrol itu persisnya di Blok Ciluncat, Desa Bantarkalong, Cipatujah. Dengan tersendatnya aliran air akibat ambrol, aparat terkait di UPTD Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Wilayah Sungai (WS) Ciwulan-Cilaki Tasikmalaya, Dinas PSDA Jabar, pun tak lama berupaya melakukan penanganan
“Insya Alloh ditangani,” sahut Kepala UPTD WS Ciwulan-Cilaki, Dikky Ahmad Sidik, saat dikonfirmasi via jejaring WhatsApp, beberapa hari lalu. Penanganan sementara di aliran daerah irigasi (DI) ini, ungkapnya, memasang bronjong batu di titik ambrol. Itu untuk menahan potensi longsoran lebih meluas. Kemudian berusaha tetap melancarkan arus air.
Yang diproyeksikan menyalurkan air sementara itu dengan memasang sambungan drum-drum. Pada langkah awalnya, menempatkan batang-batang bambu sebagai penahan drum-drum yang nantinya terpasang di sekitar lokasi ambrol. Dalam data yang dipegang Diki, luasan DI Padawaas berdasar Kepmen 1.260 hektar. Tapi kenyataan lapangannya mengaliri 1.800 hektar.
Ketika ditanya dugaan pemicu ambrolnya saluran irigasi, menurut Diki, ada kaitan dengan struktur tanah di dasarnya berasal urugan. Bukan tanah asli setempat. “Kelihatannya, dulunya seperti itu soal tanah di bagian bawah saluran irigasi yang ambrol itu,” jawab dia seraya menambahkan, kondisi tanah itu sekaitan proses pengerjaan cat and fil/.
Yang teramati berikutnya lagi, ambrolnya DI Padawaras, menyusul gorong-gorong pecah di bawah saluran. “Adapun sekaitan kebutuhan penanganan untuk airnya saat ini yang kita lakukan, dengan menempatkan talang air,” ulasnya ketika ditanya opsi penanganan yang diarahkan pihaknya. gus



Kampus Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (Umtas), pada Rabu lalu, dipadati warga. Sedari pagi mereka berdatangan. Tampak juga kalangan undangan, sejak petinggi persyarikatan Muhamadiyah pusat, pejabat pemprov, pemkot, Lembaga Layanan Pendidikan Wil.IV Jabar-Banten, unsur PDM Kota Tasik, dll.
Suasana itu mengiringi berlangsungnya wisuda lulusan Umtas TA 2017-2018. Keluarga wisadawan menghadiri acara selain kalangan undangan di atas. Kali ini, kampus berlokasi di wilayah Kec.Tamansari, Kota Tasikmalaya, itu mewisuda lulusan 235 orang, terdiri jenjang S1 Ilmu Keperawatan, Profesi Ners, D3 Keerawatan, D3 Kebidanan.
Saat memberi sambutan di awal, Rektor Umtas Dr Ahmad Qonit AD MA mengemukakan, momentum wisuda sebagai salah satu saat yang paling ditunggu para mahasiswa dan juga orangtua. Segala jerih payah, pengorbanan, serta do’a-do’a yang dipanjatkan selama ini, membuahkan suatu hasil yang menggembirakan.
Yang dimaksudnya hal menggemberikan yakni, diraihnya predikat kesarjanaan, yang akan mengantarkan para mahasiswa pada kesuksesan-kesuksesan yang menyertai di kemudian hari. Rektor juga menyampaikan ucapan selamat secara khusus kepada para lulusan dan orangtua mereka.
Yang dipesankan rektor berikutnya, pandai-pandailah mencari celah peluang untuk dapat berbagi, berkontribusi, dalam memberi solusi terhadap masalah yang ada di masyarakat. 
“Itulah jalan masuk saudara menjadi bagian solusi di masyarakat. Fokuslah di situ insya Allah segala pengalaman, ilmu, dan keterampilan yang telah saudara terima di kampus ini akan barokah, tumbuh berkembang dan memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat,” sambungnya.
Diharap mendongkrak rata-rata lama sekolah
Pada kesempatan sama, wali kota Tasikmalaya yang diwakili seorang staf ahlinya di Setda, Undang Hendiana, di awal sambutan menyatakan apresiasi untuk kinerja kampus telah menghasilkan insan-insan terdidik. Ini sebagai kontribusi bagi pembangunan negeri. Khususnya bagi Kota Tasikmalaya.
Yang diharapkannya kemudian, kampus tak hanya menghasilkan insan-insan cerdas tapi juga berkarakter atau berakhlak mulia. Kondisi di Kota Tasikmalaya terdata bahwa rata-rata lama sekolah sampai tahun 2017 dalam capaian 9,1 tahun. Artinya lama pendidikan warga Kota Tasikmalaya, baru mencapai jenjang SMP, meskipun secara individu telah banyak yang meraih jenjang sarjana bahkan magister dan doktor
“Karena itu, lahirnya sarjana-sarjana baru, diharapkan turut mendongkrak rata-rata lama sekolah di Tasikmalaya, dan tentunya mampu meningkatkan sumber daya manusia,” ujarnya.
Baca dan ikuti perkembangan zaman
Pada gilirangan pengarahan Drs Zamah Sari MAg, dari Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah, mendorong pengelola kampus untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya jadi kebanggaan sivitas Umtas, tapi juga bagi persyarikatan Muhammadiyah, jadi kebanggan warga Tasikmalaya, Jawa Barat, bahkan kebanggan bangsa Indonesia.
Penegasan Zamah berikutnya, menekankan pentingnya kelembagaan membaca dan mengikuti perkembangan zaman. Di soal ini, paparan Zamah terdengar senada dengan pemberi sambutan berikutnya yakni, Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Wil.IV Jabar-Banten, Ir Darnita Chandra MSi.
Menurut mereka, akhir-akhir ini laju dunia industri halnya, telah bergeser, dan populer dengan munculnya revolusi industri 4.0. Kemajuan teknologi industri dipengaruhi kepesatan teknologi digitalisasi, sehingga teknologi ini memengaruhi tatanannya dalam penempatan sistem komputerisasi, otomatisasi, digitalisasi. Efeknya meminggirkan ruang pekerjaan biasa/manual di kisaran 35%.
Garapan-garapan orang tergantikan perangkat baru. Era digital ini sekarang mengalami transpormasi berbasis sistem online. Setidaknya, seperti masyarakat diakrabkan layanan kemudahan dunia transportasi lewat hadirnya Gojek, Gokar, perdagangan makanan, dll. Karena itu mesti ada reorientasi baru di dunia pendidikan. Reorientasi dimulai sejak kurikulum dengan literasi-literasi baru, literasi teknologi, mahasiswa, data.
Tak sekadar membekali selembar ijazah
Tuntutannya kini digambarkan mereka, sudah harus membawa pola pikir bersama yang maju. Dunia pendidikan, peserta akademik, jangan lagi hanya berorientasi meraih IP tinggi. Tapi bagaimana kompetensinya mampu hadir, turut menyelesaikan dengan solusi atas persoalan-persoalan yang timbul, lulusan yang mampu bergaul.
Dalam kebutuhan itu, kampus perlu menyiapkan ruang keterampilan-keterampilan peserta akademik. Kemudian, menggelorakan belajar sepanjang muda. Hingga pada giliran orientasi akademik tak sekadar membekali lulusan selembar ijazah. Namun, bervisi melahirkan lulusan tangguh pada aspek mental dan kinerja. Di aspek mental, ia memiliki kejujuran. Di aspek kinerja ia berdisiplin tinggi. gus

Tasikplus

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/W-JRJTUDA6Pp2A511aWOLloJnEbtPE-IO8Q6lTekQ0B1zTZVQ7Qz8Y1b7mgcjQvlw8e8mglom-Iyyg=s599-no} Tasikplus menyuguhkan kabar seputar Tasikmalaya dan wilayah sekitarnya {facebook#https://www.facebook.com/Tasikplus/} {twitter#https://twitter.com/skutasikplus} {google#https://plus.google.com/+SKUTasikplus} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UChrZkFoikBU9_r7s4pFafcg} {instagram#https://www.instagram.com/tasikplus/}
Diberdayakan oleh Blogger.