Uus Supangat

Angka pasien terpapar Covid-19, belum kunjung mereda. Di Kota Tasikmalaya, trennya hingga kini masih naik. Dilaporkan kasus positif Covid-19 di Kota Tasikmalaya, saat ini sudah menembus angka 2.000 orang.

Persisnya sampai Senin (28/12), data di Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, akumulasi yang positif Covid-19 mencapai 2.069 kasus. Dari hari ke hari laporan ini terus melaju.

Dari jumlah itu, sebanyak 958 berstatus aktif alias masih terpapar dan saat ini menjalani isolasi di rumah sakit, gedung darurat, serta isolasi mandiri. Adapun laju penyebaran masih dengan beberapa klaster.

"Penyebarannya itu masih di klaster keluarga, perjalanan dan perkantoran," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Uus Supangat, kepada awak media massa. Uus sempat mengaku prihatin angka positif bisa menembus 2.000 dan terus bertambah.

"Warga harus terus meningkatkan kewaspadaannya untuk menghindari paparan Covid-19," upintanya. Saran ia lainnya, perketat penerapan protokol kesehatan, terutama menghindari kerumunan dan selalu memakai maskert serta mencuci tanganemakai sabun.

Yang tak kalah disampaikan kadis kesehatan ini juga, kalangan warga yang terkena, faktanya bisa siapa saja, tak pandang bulu. Hingga sudah belasan ibu-ibu melahirkan dalam kondisi positif Covid-19, sejak pandemi Covid-19 muncul di Kota Tasik. fir

 


Upaya memasyarakatkan perilaku cegah penyebaran Covid-19. Satpol PP Provinsi Jabar dibantu Satgas Covid-19 Kota Tasikmalaya, menggelar operasi yustisi penegakkan protokol kesehatan.

Operasi yustisi protokol kesehatan pada Senin (28/12) sore itu, di beberapa titik lokasi sekaligus untuk memantau penerapan protokol kesehatan di daerah, sejauhmana dipatuhi atau makin memasyarakat luas.

Ketua Tim Operasi Satpol PP Jabar, Ukun Kundarsah, menegaskan, kegiatan razia yustisi ini sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Kota Tasikmalaya.

“Sekaligus juga untuk memantau penerapan protokol kesehatan di tengah-tengah masyarakat, khususnya di Kota Tasikmalaya,” kata Ukun.

Tidak hanya di ruang publik, tapi juga tempat usaha, perdagangan dan jasa serta tempat publik lainnya.  "Secara umum hasilnya sudah baik. Jika ada yang melanggar dipastikan ditindak," ujarnya.

Pelanggar yang tidak membawa dan memakai masker, sesuai Pergub Nomor 60 Tahun 2020 didenda Rp 100.000 - Rp 500.000, dengan catatan sudah melanggar sampai tiga kali.

Namun denda tidak terjadi karena saat menggelar operasi yustisi, warga yang melintas rata-rata mengenakan masker. Pada kesempatan itu, sebanyak 5.000 lembar masker dibagi-bagikan.

Ukun berharap operasi yustisi secara rutin dilakukan Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Tasikmalaya. "Operasi yustisi sebagai salah satu upaya antisipasi penyebaran Covid-19 harus rutin digelar," katanya. red

 

Hasto Wardoyo

Ratusan pejabat fungsional di lingkup BKKBN mengikuti prosesi pelantikan pada Senin lalu. Dalam pelantikan yang berlangsung secara virtual itu, Kepala BKKBN RI Hasto Wardoyo mengingatkan soal tekad pemerintah yang ingin terus merampingkan struktur kelembagaan BKKBN.

Mereka yang dilantik sekaligus diambil sumpahnya tercatat ada 691 orang. Terdiri unsur fungsional asal seluruh kantor perwakilan BKKBN tingkat provinsi se-Indonesia. Yang dari kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat, sejumlah 16 orang. Terdiri pejabat fungsional asal Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana, Widyaiswara, serta Arsiparis.

Turut menjadi saksi acara pelantikan, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat, Drs H Kusmana, didampingi sekretaris. Mereka yang dilantik dalam posisi berada di ruangan lingkungan kantornya. Hasto melantik dalam jaringan (daring) gawai dari kantor pusat BKKBN di Jakarta, tepatnya Senin (28/12).

Sambil menyebut sedari awal pemerintah sudah dengan kebijakannya untuk merampingkan struktur, mengurangi rantai birokrasi, menurut Hasto, penyederhanaan birokrasi dalam institusinya pun terus berlangsung. Semangatnya, ini merupakan investasi untuk mendongkrak lapangan kerja yang harus diprioritaskan. Memotong alur prosedur pelayanan.

“Saya mengingatkan kembali kepada semua yang dilantik apa yang pernah disampaikan Presiden Jokowi bahwa penyederhanaan birokrasi harus terus dilakukan. Ini merupakan salah satu investasi. Prosedur yang panjang harus dipotong. Birokrasi yang panjang harus kita pangkas, dan eselonisasi harus disederhanakan,” ujarnya. rls-bkkbn.

H Maman Suparman

Merealisasikan tekad kepedulian kemanusiaannya. Yayasan Daarul Ihsan memberikan binaan dan fasilitasi terapi warga yang mengalami gangguan jiwa, atau dalam bahasa lainnya ODGJ (orang dengan gangguan jiwa).

Di satu kegiatan evakuasi terhadap ODGJ, Senin (28/12), di wilayah Kec.Cipatujah, Kab.Tasikmalaya, mencapai sembilan orang. Dalam kondisi umumnya dikurung dalam ruang sempit.  

Pimpinan Yayasan Daarul Ihsan, H Maman Suparman, membenarkan, kegiatan evakuasi setelah mendapat laporan itu. "Awalnya kami mendapat informasi hanya seorang penyandang ODGJ yakni Yadi. Tapi setelah tiba di lokasi ternyata ada sembilan orang," jelasnya.

Kesembilan ODGJ tersebut antara lain berasal dari tiga desa yakni, Desa Cipatujah, Desa Tobongjaya dan Desa Padawaras. "Sebanyak tujuh di antaranya sudah dibawa ke yayasan. Sedangkan dua lagi hari ini. Sewaktu pengambilan pertama, mobilnya hanya muat tujuh orang," ujar Maman pada hari Senin itu.

Masih kata Maman, kesembilan ODGJ ini akan mejalani perawatan awal di yayasan. Kemudian selebihnya dibawa ke RSJ Cisarua, Bandung, untuk perawatan lebih intensif.

"Jika di RSJ sudah selesai, akan dikembalikan ke yayasan untuk menjalani proses terakhir yakni pemulihan," ujar Maman.

Sekilas dengan tempat kurung mereka dengan maksud sebagian agar tak keluar sampai mengganggu warga lain, rata-rata dikurung dalam ruang sempit. Ada yang berdinding tembok, ada pula yang berdinding kayu.

"Mereka dikurung karena dikhawatirkan mengganggu kenyamaman warga. Sekarang kami bawa semua untuk mendapat perawatan yang layak," tambah Maman. red 



 

Sempat mengejutkan sekalangan warga. Belum lama ini ambruknya dua tembok pembatas rumah sakit, di wilayah Kec.Purbaratu dan Kec.Kawalu, Kota Tasikmalaya. Bangunan pembatas dibuat sekitar tahun 2016.

Beberapa hari ini, dikabarkan bangunan tembok penahan tanah (TPT) di Kelurahan Leuwiliang, Kec.Kawalu, persisnya di blok Babakankadu, juga ambruk. Kejadian ambruknya TPT yang belum dibuat atau baru saja selesai dibangun.

Kabarnya yang tersiar, jadi perhatian atau perbincangan hingga di media sosial. Bahkan, beberapa dokumentasi (foto) robohnya TPT itu, sempat beredar di medsos Facebook.  

Saat mencoba menginformasi kejadian, pejabat Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) Kota Tasikmalaya, tepatnya keterangan Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA), Yadi Kusdiman, menanggapi santai ikhwal ambruknya TPT.

Ia menyebut bahwa pembangunan TPT tersebut masih dalam proses pengerjaan rekanan. Belum check list, belum ada serah terima. Sehingga dirinya menganggap ikhwal TPT ini belum dikerjakan sama sekali.

Diminta pernyataan lebih, Yadi enggan memberikan banyak keterangan  atau jawaban. Dipersepsikan dengan kejadian itu masih dalam tanggung jawab rekanan kontraktor.

Menanggapi itu, Ketua Komisi III DPRD Kota Tasik, Bagas Suryono menyebutkan, pihak dinas jangan terus berdalih masih ada proses check list. Tapi, di sini ada soal pengawasan yang mesti intens.

“Pengawasan seharusnya dilakukan dari awal. Tidak menunggu ceklis. "Dinas PUPR dalam hal ini Bidang PSDA, jangan lempar batu sembunyi tangan. Ceklis itu adalah kontrol terakhir," ucap politisi PAN itu, melalui pesan aplikasi WhatsApp, yang dikirimnya, Kamis (17/12).

Sementara itu, komentar praktisi konstruksi Ir Nanang Nurjamil MM, melihat kerusakannya pada fisik TPT tak nampak ada tulangan besi. “Jika posisinya seperti dalam gambar, tentu bagaimanapun akan roboh. Tinggal menunggu waktu, dan terlihat hanya menempel di TPT yang sudah lama,” sebutnya.

"Pekerjaan proyek itu mesti ditongkrongi oleh konsultan pengawas. Nanti konsultan pengawas membuat laporan progres ke PPK dan PPTK, atau bagian pengawasan di dinas terkait," bebernya.

Kemudian, sambung Nanang, bidang yang bertanggungjawab atas pelaksanaan pekerjaan tersebut, melakukan pengawasan secara periodik. Rutin memeriksa atau supervisi lapangan, untuk sinkronisasi antara laporan dan fakta lapangan, begitu mekanismenya. pid


 

Camat Tamansari dan ketua PGRI Kota Tasikmalaya, memberi sambutan dan apresiasi, terus memotivasi kinerja pengurus PGRI yang lebih baik dari masa ke masa.

Pengurus dan anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, melangsungkan Konferensi Cabang XXII PGRI Tamansari, Masa Bakti 2020-2025. Konferensi itu di GOR milik PGRI Tamansari, Kamis (17/12).

Menghadiri acara, Ketua PGRI Kota Tasikmalaya, Dodo Agus Nurjaman SPd, beserta beberapa jajaran pengurusnya, unsur Muspika Tamansari, serta para mandataris pengurus ranting PGRI se-Kecamatan Tamansari.

Cukup kentara dalam pelaksanaan konferensi yang memerhatikan protokol kesehaan di masa pandemi Covid-19. Antar-mereka yang hadir duduk berjarak, bermasker. Terlebih penekanan acara yang hanya diizinkan petugas satgas Covid, hingga pukul 12.00 WIB.

Agenda konferensi dalam tahapan inti, berisi pelaporan pertanggungjawaban pengurus lama, kemudian menyepakati program lima tahun ke depan, serta paling sentris dengan agenda pemilih ketua dan pengurus baru.

Setelah melewati beberapa tahapan sidang dalam agenda itu, di ujungnya posisi ketua akhirnya diamanatkan kembali pada sosok Ketua PGRI Tamansari sebelum ini, Agus Ruhimat SPd, MPd. Ia didampingi, Wakil Ketua Maman Suryaman SPd, Sekretaris Hasan SPd MPd.

Camat Tamansari yang juga Dewan Pembina PGRI Cabang Kecamatan Tamansari, Ukim Sumantri S.Sos, saat memberi sambutan, menyatakan apresiasi untuk terselenggaranya konferensi. Memberi selamat untuk terus melakukan pengabdian. Apresiasi ia juga untuk pelaksanaan konferensi yang memerhatikan standar protokol kesehatan.

Dalam sambutan sebelumnya, Ketua PGRI Kota Tasikmalaya, Dodo Agus Nurjaman mengungkapkan kebanggaannya, untuk sinergitas, solidaritas, dan soliditas PGRI Tamansari yang terbangun sejauh ini, harapnta dapat terus menjadi motivasi bagi cabang lainnya.

Sedangkan Agus Ruhimat, saat ditanya dirinya memaknai kepercayaan itu sebagai amanah yang harus dijalankan programnya. Sempat ia mengaku kaget. “Pilihan tertuju pada yang tua lagi. Padahal banyak yang muda untuk memimpin PGRI cabang ini,” selorohnya.

Di soal program kerja, ungkapnya, masih ada garapan lama yang yang perlu dilanjutkan, seperti dengan skala prioritas di antaranya penuntasan gono gini aset dengan PC PGRI Kecamatan Cibeureum. Lainnya, pemenuhan fasilitas di gedung PGRI.

Komitmennya, sesuai visi konferensi saat ini untuk dapat mengokohkan soliditas, solidaritas. Meningkatkan semangat kebersamaan dalam spirit menghadirkan performa organisasi yang makin dapat dibanggakan, dipercaya.

“Kemudian masih dengan harapan meyakinkan bahwa organisasi ini wadah juang yang harus dirasakan keberadaannya. Merangkul rekan-rekan seprofesi yang belum masuk jadi anggota, utamanya di luar jenjang SD. Apalagi berdasar UU tentang Guru/Dosen menyaratkan kita harus berorganisasi,” pungkasnya kepada Tasikplus.gus


 

Alun-alun Kota Tasik yang rindang, menjadi salah satu titik konsentrasi ruang publik di kota ini. Di malam tahun baru, pemerintah daerah akan menutupnya dari kunjungan warga.

Makin mendekat masa pergantian tahun. Dipersepsikan warga kebanyakan, momen saatnya liburan dan berhibur, seiring masa libur yang ada. Dimulai hari raya Natal. Namun, bagi warga Kota Tasik dan daerah sekitar, sebaiknya tinggal di rumah saja.

Hal itu seiring sebaran corona virus disease 2019 (Covid-19) yang banyak dikabarkan pemerintah, belum kunjung mereda. Pun pemkot Tasikmalaya, menetapkan putusan menutup seluruh fasilitas dan ruang publik di perayaan tahun baru nanti.

Dari pernyataan Plt Wali Kota Tasikmalaya, Muhammad Yusuf disimpulkan, di malam tahun baru sebaiknya warga Kota Tasikmalaya tinggal di rumah saja. Itu seiring kebijakan pemkot yang akan menutup seluruh fasilitas dan ruang publik demi mencegah paparan Covid-19.

Tak hanya itu, aktivitas lain warga khususnya usaha di waktu malam seperti kuliner, juga dibatasi hanya sampai pukul 20.00. Memasuki waktu itu harus sudah tutup.

"Kami sudah rapat di Satgas Covid-19 Kota Tasikmalaya. Salah satu keputusan pentingnya adalah penutupan fasilitas dan ruang publik di malam pergantian tahun," jelas Muhammad Yusuf kepada awak media, seusai menggelar apel Satgas Covid-19 di Taman Kota, pekan kemarin.

Pusat Kota Tasik memiiki beberapa titik keramaian. Biasa jadi lokasi konsentrasi massa. Tak hanya warga Tasik, tapi juga asal daerah tetangga. Adapun fasilitas/ruang publik yang akan ditutup di antaranya kompleks olahraga Dadaha, Taman Kota, Alun-alun, serta mal.

Yusuf berharap warganya dapat memahami putusan ini. "Kami harap warga kota bisa mengerti. karena upaya ini demi keselamatan warga sendiri dari paparan Covid-19," ujarnya. Saat ini, penderita klaster keluarga sudah bermunculan. Mengontribus peningkatan angka kasus positif Covid-19.

"Dan, siapa tahu di antara kerumunan atau keramaian perayaan pergantian tahun ada yang positif. Makanya, demi keamanan warga sendiri kami tiadakan segala bentuk perayaan menyambut tahun baru," kata Yusuf. gus 

 

Puskesas Kersanegara, memberikan surat keterangan negatif Covid-19 bagi para pasien yang sempat positif terkena, agar mereka bisa leluasa lagi beraktivitas dan diterima masyarakat

Laporan orang terpapar Covid-19, dalam jumlah masih belum melandai. Malah, di sejumlah daerah kembali meninggi. Seperti terjadi di wilayah Kota Tasikmalaya. Banyak penderita yang semula tak merasa terkena, tapi kemudian ia positif. Hingga penanganan isolasi.

Seperti apa awal gejalanya? Berikut yang dirasakan dua penderita. Mereka kini sudah pulih setelah melewati masa yang membuat panik. Ada fase awal gejala yang dirasakan seperti demam biasa. Namun, lain kondisinya di beberapa hari kemudian.

Winda (19), demikian seorang warga asal Gunungkialir, Kelurahan Setiajaya, Kecamatan Cibeureum. Mengaku, awalnya hanya merasa terserang demam. Namun, setelah dua/tiga hari malah terus hilang penciuman.

Kontan, akunya, ia mengaku panik begitu merasakan tak bisa mencium bau apa pun. Lantas, meminta dites swab pada orangtuanya. "Aku langsung swab test mandiri, dan ternyata hasilnya positif Covid-19. Orangtua membawaku ke RSU dr Soekardjo, ujar Winda, saat menghadiri satu undangan acara di Puskesmas Kersangera, Kamis lalu.

Winda sempat memberikan tips agar kondisi kesehatan cepat membaik, disiplin meminum obat/vitamin. Lalu, harus punya rasa optimis sehat, riang gembira, menjauhi perasaan cemas. Tak ketinggalan, banyak berdoa.

Kondisi sakit hingga hari ke-10

Cerita serupa dikemukakan, Asep Diki, penduduk Kelurahan Tamanjaya, Kec.Tamansari, Kota Tasikmalaya. Asep hanya memilih isolasi mandiri ala caranya sendiri, di rumah, dengan gejala yang diyakini terkena paparan Covid-19.

Menurut jemaah satu pengajian di wilayah Kec.Sukarame, Kab.Tasikmalaya ini, tiba-tiba dalam satu hari Rabu awal Desember, dirinya merasa meriang (sering merasa hawa dingin tinggi). Tak mempan berselimut atau pakai jaket.

Kondisi tersebut selama tiga hari di awal. Hari keempat, mulai bertambah dengan rasa sakit di tenggorokan. Kemudian muncul juga rasa puyeng atau sakit kepala dengan kuat. Sakit kepala yang seperti terasamelengket ke tulang kepala.

“Nah, keesokannya bertambah hilangnya rasa penciuman. Hilang selera makan dengan hilang rasa penciuman. Dari sini, rasa cemas, gelisah. Bahkan panik bisa muncul. Apalagi rasa sakit di awal seperti demam, sakit kepala, nyeri tenggorokan, itu terus bertahan,” katanya.

Yang dirasakan bapak berusia 49 tahun ini, memilih karantina mandiri setelah beberapa gejala plus rasa dari benaknya, ia terkena positif Covid-19.  “Saat anak mendekat diminta agak menjauh. Begitupun kadang saya menghindari duduk isteri yang mendekat. Saya tak kasih tahu mereka agar tak menjadi riuh di rumah,” bebernya.

Kondisi sakit yang dirasanya sampai hari ke-10. Yang dapat membuat orang panik itu bisa lantaran saat terserang virus ini, sudah dengan sakit yang mengganggu, hati juga bisa panik lantaran hilang pengecap, kemudian kita duduk, tidur, berdiri, serba merasa tak karuan. Tak nyaman,” ungkapnya.

Sepanjang mengisolasi diri, pegakuan Asep, berusaha bertahan dengan rasa sakit itu, berusaha mengalihkan, berusaha tenang. Selebihnya terus berdzikir. “Saya berusaha tenang sambil terus berdzikir dan banyak berbaring, memohon kesembuhan pada Alloh,” akunya.

Pemahaman Asep, mereka yang punya imun baik, bisa melewati masa parah terpapar virus ini. Virus ini sudah kadung merebak, namun banyak warga yang sudah memiliki imun bagus. Bisa repot bagi mereka yang terkena dengan tanpa gejala atau memiliki riwayat penyakit dalam.

Berarti sudah negatif

Dokter Puskesmas Kersanagara, dr Isni Lestari, memberi keterangan bahwa jika lebih dari dua minggu kondisi kesehatan seorang penderita Covid-19 tetap stabil dan malah meningkat, berarti sudah negatif.

"Jadi seorang pasien Covid-19 dinyatakan sembuh itu tidak hanya berdasar hasil swab test yang menyatakan negatif," ujar Isni di kegiatan pemberian surat keterangan negatif Covid-19 yang digelar Puskesmas Kersanagara, Kamis (17/12).

Diterangkannya, berdasar juknis penanganan Covid-19 sesuai Kepmenkes Nomor 413 Tahun 2020, pasien Covid-19 tanpa gejala yang sudah melewati masa perawatan minimal dua minggu dan kondisinya tetap sehat bisa dinyatakan sembuh.

Adapun kebijakan pemberian surat keterangan sehat, bebas Covid-19 itu, tambah Isni, agar mereka bisa beraktivitas kembali dan diterima kembali warga sekitar. gus

Tasikplus

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/W-JRJTUDA6Pp2A511aWOLloJnEbtPE-IO8Q6lTekQ0B1zTZVQ7Qz8Y1b7mgcjQvlw8e8mglom-Iyyg=s599-no} Tasikplus menyuguhkan kabar seputar Tasikmalaya dan wilayah sekitarnya {facebook#https://www.facebook.com/Tasikplus/} {twitter#https://twitter.com/skutasikplus} {google#https://plus.google.com/+SKUTasikplus} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UChrZkFoikBU9_r7s4pFafcg} {instagram#https://www.instagram.com/tasikplus/}
Diberdayakan oleh Blogger.