Sekitar 5.000 Warga Hak Pilih Kota Tasik Belum Miliki KTP Elektronik



Banyak pihak terus terkonsentrasi ke pelaksanaan Pemilu Serentak 2019. Terlebih unsur penyelenggara guna membuat lancar dan sukses agenda politik nasional ini. Dalam hitung pelaksanaannya yang tinggal empat bulan lagi, sekitar 5.000 warga Kota Tasikmalaya, yang memiliki hak pilih, masih belum memiliki KTP elektronik.

Pernyataan pejabat di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil), hal itu berkait dengan soal suplai blangko KTP elektronik yang kurang. Pemkot Tasikmalaya hanya mendapat jatah 500 blanko sekali berangkat ke Jakarta. Sementara jumlah pemohon KTP rata-rata 200 orang setiap harinya.

Persisnya dikemukakan Kepala Disdukcapil Kota Tasikmalaya, Imih M Munir, sejauh ini kekurangan suplay menjadi salah satu pemicunya. Di kantornya sering kekurangan blanko dibanding kebutuhan. "Belum lagi pemohon yang dilayani di kantor-kantor kecamatan. Ini menjadi salah satu kendala yang menyebabkan keterlambatan pembuatan KTP elektronik," katanya, di sela kegiatan pemusnahan KTP invalid, Senin (17/12).

Saat ditanyakan, apakah pembuatan KTP elektronik bagi 5.000 warga akan selesai sebelum hari H pemilihan? Imih mengaku tak bisa memastikan. Pihaknya sudah maksimal memberikan pelayanan. Namun stok blanko KTP hingga kini masih menjadi kendala utama.

"Tergantung ketersediaan blanko. Kami sudah berupaya memberikan pelayanan secara maksimal. Bahkan gudang disulap menjadi tempat pelayanan yang nyaman dan luas. Tapi ya tergantung stok blankonya," ujar Imih.

Sementara KTP elektronik yang dimusnahkan pada kegiatan itu dengan cara dibakar lebih dari 22.000 lembar. Prosesi pemusnahan disaksikan unsur Polres Tasikmalaya Kota, Satpol PP Kota dan Kantor Kesbang Kota. Sebagian besar karena rusak secara fisik serta tak berlaku lagi karena ada perubahan data diri.

"KTP elektronik invalid ini terkumpul sejak tahun 2016. Ada yang karena rusak ada juga yang tidak berlaku karena perubahan data diri. Misal yang tadinya bujangan lalu menikah dan ganti KTP. Ada pula yang pindah domisili," ujar Imih. fir