Luas Lahan Pola Tanam Organik Stagnan




Jadi opsi bercocok tanam lebih bernilai ekonomi. Terutama di penanaman padi seperti sudah dilakukan sebagian petani, dengan berpola tanam organik. Sedari awal banyak disampaikan bermodel tanam ini lebih menjanjikan nilai plusnya. Namun, di perjalanan sampai sekarang, pengembangan pola tanam ini di Priangan Timur terpotret stagnan.
Tak banyak mengalami perkembangan, sejak aspek luasan tanam atau arealnya, jumlah petaninya. Sehingga dalam giliran belum banyak mendongkrak produktivitas lahan yang melejit. Model tanam ini menjadi bahan desertai akhir akademik strata III, Dr D Yadi Heryadi Ir MSc, wakil rektor di Universitas Perjuangan (Unper) Tasikmalaya.
Melayangkan beberapa pertanyaan terhadap sosok akademisi yang masih hangat menamatkan studi doktornya, dia jawab seputar gambaran aktivitas tanam padi organik yang terus tersimpulkan, sampai saat ini masih dihadapkan kendala aktivitas pengolah lahan, pengalihan pola tanam dari model konvensional ke model organik.
Ada yang menyebut juga, pola tanam organik ini dengan konsep SRI (system of rice intencification). Dalam wilayah penelitian yang dilakukan Yadi guna keperluan desertasi itu, memotret aktivitas penanaman oleh para petani di wilayah Priangan Timur. Didapati catatan, belum menguat pengembangan luas lahan dan produksi padi pola organik.
/Selisih harga/
Dari beberapa wilayah dalam cakupan pemda di Priangan ada beberapa kab/kota terapkan pola SRI yakni, Kab.Garut, Kab-Kota Tasikmalaya, Kab.Ciamis, Kota Banjar, dan Kab.Pangandaran. Hitungan terbanyak lahan penanaman padi ini dimulai di Kab.Tasikmalaya, kemudian Kab.Garut, Kab.Ciamis dan Pangandaran dengan penanaman terbatas. Malah, di Kota Tasikmalaya dan Kota banjar, belum tampak aktivitas tanam padi organik.
Menyebutkan pola tanam ini yang terbersit di masyarakat, konsep tanam dengan proses, olah, dan hasil bebas residu pestisida. Sepanjang persiapan, olah tanam, tak menempatkan pemupukan pupuk anorganik. Proses itu bahkan diawali sejak pratanam pada lahan yang disiapkan. Lalu, menghasilkan padi dipanen dengan nilai jual di atas padi hasil cocok tanam konvensionl/biasa.
Kalau beras yang premium saat patokan harga sementaranya (versi pemerintah) per kilogram Rp 7.000, untuk jenis produk organik sampai Rp 20.00. Perbedaan harga sejak di penjualan gabahnya. Kalangan tertentu masyarakat hingga pemesanan luar negeri cukup meminati produk tanam secara non-organik ini. Di Kab.Tasikmalaya, satu kelompok tani bernama “Simpatik” dalam beberapa tahun terakhir menjual ekspor padi organik.
Tantangan Dihadapi
Sudah belasan tahun, sekalangan petani di beberapa daerah di Kab.Tasikmalaya, terbiasa melangsungkan usaha tanamnya dengan model aman dari bahan kimiawi asal pupuknya itu. Namun, saat pola tanam ini sudah berjalan lama, kenyataan belum mendorong perluasan tanam dan produksi yang signifikan.
Data laporan dua tahun ke belakang halnya, luas wilayah tanam petani Kab.Tasikmalaya, masih di angka 8.000 ha. Angka ini hanya sekitar 16% dari keseluruhan lahan pertanian di Kabupaten ini.
Dari analisi Yadi lagi, setidaknya ada lima subsistem yang masih menahan geliat masif pola tanam ini. Tiga di antaranya tantangan cukup dihadapi di kalangan petani terdiri soal aspek penyediaan pupuk yang tak melimpah, teknik budidaya tak banyak berkembang, dan keharusan bersertifikasi yang bertarif tak kecil.
Di aspek lainnya, soal kejelasan pasar penyerap produksi yang bisa mudah kapanpun petani mengaksesnya. Saat ini fokus jualnya, kalau di Kab.Tasikmalaya, melalui satu koperasi gapoktan. Di soal hasil tanamnya, banyak yang menyebutkan, hasil produk berpola tanam organik lebih tinggi. Namun, menurut Yadi, di soal itu relatif saja pada kenyataan sekarang.
Malah, ia lebih menekankan terhadap para pemangku kebijakan dengan aspek instannya pihak yang jadi penyerap hasil produksi ini. “Andai saja hasil produksi ini di lahannya setara dengan olah konvensional, itu masih enggak apa. Sebab, keuntungan petani bisa dipetik dari nilai jualnya yang jelas berbeda,” tambah Yadi pengajar Pertanian di Unsil itu.gus