![]() |
| Ilustrasi.Dok |
Sejak akhir Perang Dingin 1991, dunia jelas menyadari bahwa kekuatan militer dan senjata nuklir tidak akan cukup untuk mempertahankan dominasi. Daya tarik budaya, cerita yang menggugah, dan nilai politik yang yang mampu menarik simpati global justru menjadi faktor yang lebih menentukan.
Di era internet dan globalisasi sekarang, kekuatan tidak lagi diukur dengan jumlah tank atau bom. Tapi dengan ide-ide baru, cerita viral, dan legitimasi yang membuat orang percaya.
Perubahan lanskap inilah yang membuat pemaham kita tentang geopolitik juga ikut berubah. Indonesia lewat budaya, diplomasi, dan kreativitas menjadi modal utama dalam geopolitik soft power yang sedang dibangunnya.
Konsep geopolitik klasik dari Rudolf Kjellén, yang melihat negara sebagai organisme hidup yang harus terus berkembang untuk bertahan, masih relevan hingga hari ini, namun dengan nuansa yang lebih modern.
Jika dulu pertumbuhan itu diukur lewat perluasan wilayah dan kekuatan militer, kini fokusnya bergeser ke soft power. Seperti membangun pengaruh melalui nilai-nilai budaya, kerja sama internasional, dan inovasi yang menarik hati dunia tanpa perlu senjata.
Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan keragaman luar biasa, sedang memanfaatkan momentum ini untuk menjadi pemain global yang tak terduga.
Joseph Nye pernah berkata, kekuatan sebuah negara tidak selalu datang dari senjata atau tekanan, tetapi dari daya tariknya. Negara bisa memengaruhi pihak lain hanya dengan menunjukkan budaya, nilai, atau kebijakan yang membuat orang lain merasa, “Ini layak ditiru”.
Indonesia telah membuktikan hal itu. Batik yang diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Manusia pada 2009 dan kuliner khas Indonesia seperti rendang, nasi goreng, sate yang mendunia, menjadi contoh bagaimana budaya dapat menciptakan pengaruh secara natural.
Namun soft power Indonesia tidak berhenti pada budaya. Diplomasi aktif Indonesia di berbagai forum Internasional, mulai dari PBB dan BRICS membuat negara ini dapat membangun citra positif sebagai negara toleran dan beragam.
Lalu, peran sentral Indonesia di ASEAN secara konsisten memimpin inisiatif kerja sama budaya dan pendidikan yang mempererat solidaritas regional dengan pendekatan berbasis nilai toleransi.
Tampilan lebih fleksibel
Di sisi lain, ekonomi kreatif dan diplomasi halal memperluas dampak Indonesia. Keduanya menghasilkan kerja sama baru yang menunjukkan bagaimana budaya, belanja internasional, dan identitas agama bergabung menjadi strategi politik yang penting di zaman sekarang.
Kerja sama ini menciptakan tampilan baru politik Indonesia yang lebih fleksibel, lebih menarik, dan lebih mampu beradaptasi dengan perubahan dunia.
Bukan lewat konflik regional atau bahkan kekuatan senjata. Indonesia bisa membuktikan kekuatannya lewat daya tarik budaya dan nilai-nilai global yang dimilikinya.
Seperti yang dikatakan Rudolf Kjelén, negara adalah organisme hidup yang harus terus beradaptasi. Sejalan dengan pandagannya, soft power bisa dianggap sebagai cara organisme itu bernapas di dunia global.
Ia berfungsi sebagai energi halus yang menjaga eksistensi dan kekuatan negara tanpa menyebabkan konflik. Semakin kuat daya tarik budaya dan diplomasi Indonesia, semakin kuat juga posisi kita di sistem Internasional.
Posisi Indonesia kuat bukan karena kekuatan senjata, tetapi karena kemampuan Indonesia untuk mempengaruhi orang dengan bijak dan nilai.
Pada akhirnya, kekuatan Indonesia di masa ini bukan lagi tergantung pada kerasnya bunyi tembakan senjata atau dentuman meriam. Melainkan pada seberapa kuatnya pengaruh ide dan nilai yang kita sebarkan. Cerita, budaya, dan kehangatan lebih mudah memengaruhi dunia saat ini daripada ancaman.
Oleh karena itu, soft power menjadi bentuk kekuasaan baru yang menarik daripada yang menindas di tengah arus global yang bersaing. Indonesia tidak perlu menaklukan dunia. Cukup dengan menarik perhatian dunia dengan cara kita hidup, berpikir, dan membuat karya.(*)
Nayla Maulidan Nisa
Mahasiswa Ilmu Politik
FISIP Universitas Siliwangi





0Komentar