Tasikplus.com-Memasuki Oktober 2025 lalu, masyarakat Jawa Barat (Jabar) disuguhi berita eksploitasi sumber daya air mengkhawatirkan, yang diangkat Gubernur Jabar Dedi Mulyadi terbuka. Gaungnya melabrak klaim sedot satu pabrik air kemas besar dari alir pegunungan kepada visualisasi sedot air dari dalam tanah.
Kemudian masyarakat dibuat apal risiko lingkungan atau bahaya eksploitasi air tanah jika tanpa kontrol setelah bahasan soal air ini melebar. Mengemuka bahasan-bahasan para ahli dan akademisi menyertainya. Namun, seperti biasa ramai di awal, landai sorotan tentang potensi krisis air ini kemudian.
| Sukinta |
Ia mengibaratkan, Bandung dulu dikenal dengan kota sejuta mata air. Tapi sekarang? Banyak sumur warga gampang kering, sudah mengering. Banyak kawasan dengan air mengalir deras, kini tak lagi. Semua itu terkorelasi dengan kerusakan lingkungan, eksploitasi air besar-besaran.
Kalau ribuan liter tiap hari berpindah mengisi botol-botol kemasan, air bawah permukaan tanah yang layaknya jadi sumber kehidupan warga, jadi komoditas bisnis. “Ketika cadangan air tanah makin tipis, dampaknya kelak krisis , aspek lingkungan sekitar kita rusak," ujar mantan birokrat itu.
Bila struktur tanah sudah kering tersedot, sumur warga kerontang, tanah jadi retak, vegetasi di sekitarnya ikut layu. Ancaman lainnya seperti sudah berlangsung di kota-kota besar, permukaan tanah turun. Di beberapa negara seperti, Thailand, dampak eksploitasi air tanah berlebih membuat tanah ambles.
“Kita juga belakangan ini dibuat ngeri, rangkaian efek dari struktur tanah yang sudah habis tersedot airnya memunculkan sinkhole. Lubang besar yang tiba-tiba muncul di area terbuka, kawasan permukiman, dll. Halnya menimpa Malaysia selain Thailan, lantaran isi bawah tanahnya kosong”, sebut Sukinta.
Saling terhubung
Ancaman lain dengan eksploitasi air tanah tak terkendali, efek dominonya, udara jadi lebih panas, tanaman sulit tumbuh, dan keseimbangan alam terganggu. Semua terhubung. Air itu bukan cuma cairan, tapi penopang hidup semua makhluk.
Gambaran ilmiah, air yang keluar alami ke permukaan, berasal dari akuifer dangkal. Sementara akuifer dalam itu lapisan air yang letaknya jauh di bawah, terperangkap di antara batuan keras. Dua aliran seperti terpisah. Tapi kenyataannya tak sesederhana itu.
Perspektif hidrologi, semua lapisan air tanah saling terhubung. kalau air di lapisan bawah terus disedot tanpa kontrol, tekanan air bisa turun dan aliran ke mata air alami ikut melemah. kalau acap ada pengakuan warga di sekitar kawasan industri sumurnya perlahan menyusut, mengering, itu klaim yang bisa korelatif, di tengah pengakuan pabrik pengeksploitasinya yang menyebut mengambil jauh di kedalaman bawah. red




0Komentar