Menandai pembukaan seminar, Pj Wali Kota Cheka Virgowansyah, Kapolres AKBP Joko Sulistiono dan yang lainnya, mengangkat tangan untuk mengajak peserta seminar selalu antisipatif paham radikalisme.
Tasikplus.com-Berlangsung di aula kantor Bapelitbangda Kota Tasikmalaya. Para siswa jenjang SMA/SMK di Kota Tasikmalaya didampingi guru pembimbing, mengikuti kegiatan seminar wawasan kebangsaan, Rabu (22/5).

Seminar diselenggarakan Mapolres Tasikmalaya Kota, program Mabes Polri. Hadir saat pembukaan Pj Wali Kota Tasikmalaya Cheka Virgowansyah, unsur Forkopimda, pejabat kepala OPD, dll.

Mengusung tema “Melalui Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Lahir Pancasila, kita tingkatkan nasionalisme, cinta tanah air, dan daya cegah paham yang mengancam kebhinekaan dan NKRI”.

Saat memberi sambutan, Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Joko Sulistiono mengungkapkan, motivasi kegiatan untuk memberikan bekal wawasan kebangsaan kalangan pelajar atau generasi muda.

Menanamkan nilai-nilai nasionalisme yang kuat bagi generasi muda yang akan menjadi penerus calon-calon pemimpin Indonesia di masa depan.

“Dengan penanaman nasionalisme diharapkan tertanam daya tangkal terhadap sebaran paham-paham radikal atau paham yang bisa mengancam keutuhan NKRI”, ujar kapolres di acara yang diikuti ratusan pelajar itu.

AKBP Joko juga sempat mengemukakan, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini lebih berat. Terlebih dengan laju pesat perkembangan teknologi informasi, anak-anak muda harus punya bekal menangkal pengaruh-pengaruh negatifnya.

Di kesempatan sama, Pj Wali Kota Cheka Virgowansyah mengawali sambutan dengan mengucapkan terima kasih kepada Polres Tasikmalaya Kota yang telah menggelar seminar itu.

Ia sependapat, pelajar atau generasi muda dihadapkan tantangan zaman yang lebih berat saat ini. Namun mereka juga harus dapat mengikuti perkembangan. Hingga mereka harus siap menyongsong Indonesia Emas 2045. Dengan wawasan kebangsaan yang dapat menuntun.

"Media sosial kini begitu gencar. Input kepada anak-anak lebih tinggi dibandingkan zaman kita dulu. Dulu mungkin sekadar nonton televisi dan SMS. Tapi sekarang semua ada," katanya.

Wawasan kebangsaan dapat diartikan sebagai sudut pandang atau cara memandang yang mengandung kemampuan seseorang atau kelompok memahami keberadaan jati diri sebagai suatu bangsa dalam memandang dirinya dan bertingkah laku sesuai falsafah hidup bangsa dalam lingkungan internal dan lingkungan eksternal.

Mengemuka juga dalam bahasan bahwa wawasan kebangsaan yang kuat memahami bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara berdasarkan Bhineka Tunggal Ika.

Perbedaan suku, agama dan lainnya dijadikan sarana untuk meningkatkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sosial bermasyarakat bernegara. Dengan memupuk terus nilai kebangsaan sejak dini, dapat membangun bangsa ini lebih maju dan setara dengan bangsa lainnya di dunia. gus