Tebih tinggi, memisahkan dua bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tirtayasa, di wilayah Kelurahan Setiawargi, Kec.Tamansari, Kota Tasikmalaya. Dalam beberapa bulan terakhir, kondisi tebing dirasa mengkhawatirkan warga sekolah itu. Setelah sempat longsor dan membuat raib pipa besar saluran air, kini saat hujan air deras mengguyur dari bagian atas lahan ke bagian depan bangunan sekolah di bawahnya. Sepintas, jika terus terbiarkan tepi tebing yang sudah mengalami longsor bisa meluas, menimpa gedung sekolah, menggerus lahan atas samping sekolah. gus

 

Menandai kegiatan gerakan tanam, Kepala UPTD PSDA WS Ciwulan-Cilaki, Aseng Supriatna, menanam satu batang pohon yang diikuti pejabat lainnya, di lokasi sekitar Situ Cibeureum.


Jajaran aparatur ini merefleksikan kegiatan peduli lingkungan. Melakukan gerakan tanam pohon di lahan kritis tahun 2020. Persisnya pegawai ini, asal Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Wilayah Sungai (WS) Ciwulan Cilaki, Dinas Sumber Daya Air Pemprov Jabar.

Menjadi lokasi kegiatan yang menjadi titik simbolik gerakan penanam pohon, di areal Pulo sekitar Situ Cibeureum, Kec.Tamansari, Kota Tasikmalaya, Selasa lalu. Kegiatan mereka dihadiri sekretaris kecamatan (sekmat) beserta unsur muspika Tamansari, jajaran lurah, tokoh masyarakat sekitar situ, dll.

Saat pembukaan acara, Kepala UPTD PSDA WS Ciwulan-Cilaki, Aseng Supriatna ST MSi menggambarkan, di kekinian makin banyak kawasan yang semula menghijau kemudian dalam kondisi gundul/gersang, hingga kritis. Itu banyak menimpa kawasan hutan. Padahal kelestariannya sangat urgen bagi kehidupan.

Pada konteks lain, argumen kegiatan yang dilancarkan pagi Selasa (11/8) itu, menindaklanjuti Perda Jabar No.7 tentang Pengendalian dan Reahbilitasi Lahan Kritis, serta untuk mewujudkan pemulihan daerah aliran sungai (DAS) di Jawa Barat.

Spirit lain dari kegiatan tanam dan pelihara pohon ini sekaligus kampanye pada segenap aparatur  dan masyarakat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sebagai aset tak ternilai. Aset ini perlu dijaga, guna meningkatkan kualitas lingkungan yang baik serta kehidupan kini dan mendatang.

Sekmat Tamansari, Didin Fitriadi SIP M.Kes dan perwakilan pejabat KCD Perkebunan, pada satu sesi sambutan memberi apresiasi kegiatan tanam pohon itu. Pola pemanfaatan lingkungan, sarannya, saatnya lebih ke model berdaya, seperti penempatan peternakan lebah, ketimbang terus menebangi pepohonan atau kayunya.

Sempat mengemuka pula, arti penting satu pohon, setidaknya dalam menghasilkan karbondioksida untuk setiap dua orang manusia. Sementara, saat ini lahan kritis di Indonesia meluas, mencapai 14 juta hektar dan di Jabar, 911.192 hektar atau 6,51% dari luas wilayah.

Pada kegiatan itu, ada sekitar 550 batang benih pohon kekayuan dan buah yang siap tanam. Sumbernya berasal dari patungan atau paritisipasi pegawai UPTD PSDA WS Ciwulan-Cilaki Tasikmalaya. Setelah penanaman simbolik di area sekitar situ, benih pohon selebihnya diserahkan ke Kantor Cabang Dinas Perkebunan. gus

Di ruangan tempat berlangsungnya pelantikan, Graha Umtas, hanya dihadiri mereka dengan jumlah terbatas. Pada satu sesi simbolik pelantikan, perwakilan wisudawan memasuki podium pimpinan sidang, menerima ucapan selamat dan ijazah.


Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (Umtas), melepas kembali lulusan kampusnya, tahun akademik 2019/2020. Menempati Graha Umtas, Kamis lalu, prosesi pelantikan wisudawan tampak dengan suasana tak seperti biasanya. Digelar dengan satu sidang terbuka senat, secara virtual atau daring (dalam jaringan).

Hanya beberapa wisudawan yang mewakili tiap prodi, peraih tinggi nilai tertinggi, berada di ruangan acara wisuda. Didampingi para orangtuanya. Jumlah selebihnya, sebut Rektor Umtas Dr Ahmad Qonit AD MA, mengikuti wisuda di rumah masing-masing. Penyelenggara wisuda menyiapkan media daring video conference

Opsi gelar wisuda daring, menjabarkan penyelenggaraan even yang mesti memerhatikan Protokol Kesehatan di masa pandemi Covi-19. Bersamaan satu sesi pelantikan secara simbolik, rektor memerintahkan seluruh wisudawan virtual untuk memindahkan tali toga di masing-masing rumah oleh orangtua mereka.

Wisuda kali ini merupakan yang kedua setelah kehadiran Umtas pada 2014, dengan jumlah 118 lulusan asal beberapa prodi. “Hari ini menjadi saksi selesai kegiatan pendidikan di kampus. Apapun keadaannya. Ini menjadi hari kesaksian yang luar biasa bagi Anda semua. Tentunya juga untuk para orangtua yang telah mengantarkan putra-putrinya. Kami ucapkan selamat,” ujar rektor saat memberi sambutan, pagi Kamis (30/7) itu.

Sepanjang acara, kesan kuat tertangkap prosesi pelepasan lulusan atau wisuda yang tak terasa semarak dan meriahnya. Jumlah yang hadir dan undangan sangat terbatas. Kebanyakan panitia fokus dengan layar monitor jaringan, memantau keberlangsungan kegiatan. Di antara mereka duduk berjarak, bermasker, hingga mengenakan plastik penutup muka. gus





Para guru saat ini dibuat akrab aplikasi daring (dalam jaringan). Terdorong model pembelajaran pada siswanya menerapkan sistem online. Mereka tak lagi berkutat aktif  di media sosial (medsos) akun FB dan WA. Tapi kini melebar ke tuntutan nambah kompetensi yang diarahkan, seperti para guru di SMPN 15 yang aktif ikut tayangan-tayangan video conference, seminar dalam web atau webinar, meeting zoom, dalam hari-hari datang ke sekolah. Di antara mereka bidik kegiatan-kegiatan webinar dalam bahasan sesuai kebutuhan. Kebanyakan untuk mendongkrak pengetahuan dalam relevansi bidang mataajar yang jadi tugasnya. Mendapatkan sertifikat demi sertifikat di sesi akhir kegiatannya.gus



Sejak bertahun-tahun ini, area di sekitar UPTD Pasar Hewan Manonjaya, Dinas Peternakan Kab.Tasikmalaya, menjadi pasar tradisional perdagangan hewan ternak.

Para pedagang ternak berdatangan hingga dari pelosok di Priangan Timur dan sebagian daerah asal Jateng. Pembelinya kadang datang dari luar Pulau Jawa.

Bersamaan datangnya momentum Hari Raya Idul Kurban Jumat pekan lalu, kabar yang mengemuka, sepi pembeli. Padahal biasanya memasuki masa Idul Adha ini ada lonjakan transaksi hingga 30%.

Dalam setiap hari pasar penjualan, Rabu, perdagangan ternak di pasar hewan ini mencapai 400 ekor, dengan dominasi berjenis sapi, kemudian kerbau, dan kambing/domba.

Obrolan sekalangan pedagang, penurunan angka pembelian ternak untuk kurban, berkaitan dengan efek pandemi Covd-19. Ekonomi melesu, daya beli menurun.

“Keadaan sekarang beda jauh. Saya bawa 14 ekor ternak ke pasar ini. Setelah berjerih payah tawarkan hingga siang, baru laku dua ekor. Banyak masyarakat lagi susah duit sepertinya. Terdampak Covid 19,” ucap Dedi, seorang bandar sapi asal Kec.Salawu, Kab.Tasikmalaya, Rabu siang lalu. ade 






Di masa pembelajaran daring, opsi sebagian guru melaksanakan pembelajaran dengan berkunjung ke rumah-rumah murid. Dikumpulkan anak-anak dalam jumlah lima orang terdekat, berpindah dari satu kampung/tempat ke tempat lainnya.


Kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa di sekolah, saat ini umumnya menerapkan model daring (dalam jaringan) berbasis internet. Pola tatap muka dilarang pemerintah sementara ini seiring upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Namun tak urung, opsi daring dijalankan dalam kegamangan efektivitasnya.

Sejak Maret lalu, pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19) menyerang global. Banyak aktivitas tertahan, memengaruhi dunia ekonomi dan sosial. Kegiatan sekolah atau lingkungan pendidikan diliburkan. Guna menghindari merebaknya pandemi ini dalam konsentrasi massa di tempat-tempat pendidikan. Secara perlahan, penerapan daring di sekolah banyak disoal para orangtua, dalam harap belajar kembali di sekolah.

Memasuki masa awal tahun ajaran baru 2020-2021, dan sebelumnya ditandai dengan penerimaan siswa baru, model pembelajaran daring jadi perhatian para pendidik. Pola ini harus dijalankan sebab jika tidak, mendesing ancaman sanksi di kalangan sekolah hingga pencopotan kepala sekolahnya.

Umumnya sekolah dalam beberapa hari ini, menyosialisasikan penerapan pola daring pada para orangtua siswa. Mereka mengatur jadwal dan teknik pelaksanaannya. Tak lagi menyoal efektif-tidaknya, kualitasnya seperti apa. Menekankan para orangtua bisa turut membantu anak-anak banyak belajar di rumah

Namun yang tak terelak dengan soal kesiapan penerapan model jarak jauh itu, terlebih di daerah, tantangan kepemilikan gadget atau android, hingga data penyambung jaringan yang belum dimiliki setiap anak. Tak setiap keluarga bisa memberi smart phone anak lantaran aspek kemampuan finansialnya.

Buntutnya, pada giliran tugas dari sekolah diberikan, sebagian anak mengerjakannya, ada juga yang mengacuhkannya. Penuturan Kepala SMPN 21 di Kec.Tamansari, Kota Tasikmalaya, Bambang Eka Budiman MPd, catatannya masih sangat banyak anak didiknya yang tak memiliki android memadai.

Akan tak efektif saat dipaksakan model daring. Ketika menggelar tatap muka, dirinya cukup mendengar ujungnya ada kepala sekolah yang mendapat sanksi keras. Lantaran tak boleh menggelar KBM seperti biasa. Dalam pengakuan berikut ia menyebutkan, kemungkinan KBM menerapkan model campuran.

Disiratkannya, model campuran ini maksudnya, daring yang sudah jadi perintah tetap dijalankan meski tak cukup yakin dengan efektivitasnya. Lalu, diadakan juga kegiatan anak hadir ke sekolah sekali seminggu dengan kedatangan sift, untuk pemberian bahan tugas belajar di rumah.

Hingga ke soal kesiapan data

Dalam penelusuran lainnya masih di kecamatan terujung wilayah selatan Kota Tasikmalaya itu, penuturan Kepala SMPN 15, Sugiharto MPd, senada ia dengan kepemilikan android siswanya yang belum menyeluruh, lantas tantangan berikutnya dengan klaim orangtua siswa, tak selamanya mereka dapat memberi kebutuhan data smart phone.

“Saat pembelajaran daring kita dapati anak tak ikut. Saat ditanyakan, jawaban yang datang dari orangtuanya mereka sebutkan tak bisa selamanya memenuhi keinginan anak untuk beli data android. Dari jawaban ini kemudian kita arahkan anak untuk belajar bersama, bergabung. Belajar berkelompok,” papar Sugiharto.

Masih dari pernyataan yang tertangkap, tak semudah meminta peserta didik belajar bareng, sebagian sekadar asal ada. Proses pendidikan yang seperti asal-asalan. Pemenuhan tugas yang copy paste. Tak sedikit lainnya yang abai. Bahkan kabarnya pun seperti mereka tak dapati.

Harapan-harapan para orangtua siswa, perlahan mulai bermunculan di jejaring medsos, untuk tak sebegitu terkungkung paranoid Covid-19. Di antara permintaan kepada pemerintah, kembali membuka aktivitas pendidikan di sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan yang kini mulai cukup populer. Seperti selalu memakai masker, jaga jarak, jaga kesehatan dengan sering cuci tangan.

Mereka sampaikan, tak mudah bagi umumnya orangtua siswa mengawal anak belajar di rumah. Di samping tak menguasai ilmu didaktik-metodik, luang waktunya kemudian lebih banyak diisi main. Sebagian orangtua menduga ketidakefektifan model belajar yang ada ini berimplikasi pada aspek kualitas yang menurun.

Absennya aspek mendidik

Harapan itu senada dengan pernyataan Kepala SMPN 12 di Kec.Kawalu, Kota Tasikmalaya, H Eman Suhaeman MPd. Pihaknya bersama para guru, aku dia, kini tengah fokus mengatur teknis pembelajaran daring. Namun di sisi lain, dirasanya ada aspek yang absen manakala terus dengan pola daring ini.

Saat berlangsung pembelajaran anak di sekolah, di situ mencakup dua hal yang jadi bagian prosesnya yakni, antara aspek mendidik dan mengajar pada anak. Sekilas yang ia maksud kalau aspek mendidik proses mendorong kedewasaan anak, menanami nilai-nilai moralitas dari tauladan-tauladan yang dipesankan.

Sedangkan proses mengajar, berlangsungnya transfer ilmu pengetahuan, isi buku, konten ajar berdasar kurikulum. Untuk mengayakan khasanah pikirnya. “Dari model daring ini, sepertinya aspek mendidiknya ini yang tak jelas. Anak-anak hanya diberi tugas untuk mengerjakan di luar sekolah,” imbuhnya.

Gamang

Tuntutan KBM daring bak yang penting asal terapkan. Terlepas dengan tingkat efektivitas atau capaian kualitasnya, dalam klaim ini pilihan dunia pendidikan di masa darurat. Di jenjang SMP, para pendidik mencatat tantangan di antaranya di kesiapan kepemilikan gadget dan datanya yang belum bisa merata.

Lain cerita yang terlontar dari pendidik di jenjang sekolah dasar. Seperti diungkapkan Kepala SD Tirtayasa, Azid Halim SPd, di Kelurahan Setiawargi, Kec.Tamansari. Yang didapatinya, tantangan masih berkaitan dengan kondisi stabilitas jaringan milik provaider seluler, belum sesiap layaknya di perkotaan.

Kemudian dilema yang dirasa, model daring tak yakin siap diterapkan bagi murid-muridnya di kelas awal. Dirinya dihadapkan rasa gamang. Tuntutan yang ada, tak boleh ada tatap muka. “Saya masih belum bisa membayangkan, mengajari anak yang baru masuk, kelas I, langsung menerapkan daring,” katanya.

Lanjut Ajid, mereka (anak-anak itu) harus bertemu gurunya yang sudah biasa membimbing, belajar di kelas/sekolah. Ada metodanya membimbing anak-anak ini beradaftasi di sekolah, belajar awal membaca hurup dan angka-angka, sesuai konten bahan ajar berdasar kurikulum. Opsi lain bersama gurunya, melakukan pembelajaran di rumah murid, dengan mengumpulkan sekitar lima orang, di satu rumah. Secara bergilir. gus

Kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa di sekolah, saat ini umumnya menerapkan model daring (dalam jaringan) berbasis internet. Pola tatap muka dilarang pemerintah sementara ini seiring upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Namun tak urung, opsi daring dijalankan dalam kegamangan efektivitasnya.

Sejak Maret lalu, pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19) menyerang global. Banyak aktivitas tertahan, memengaruhi dunia ekonomi dan sosial. Kegiatan sekolah atau lingkungan pendidikan diliburkan. Guna menghindari merebaknya pandemi ini dalam konsentrasi massa di tempat-tempat pendidikan. Secara perlahan, penerapan daring di sekolah banyak disoal para orangtua, dalam harap belajar kembali di sekolah.

Memasuki masa awal tahun ajaran baru 2020-2021, dan sebelumnya ditandai dengan penerimaan siswa baru, model pembelajaran daring jadi perhatian para pendidik. Pola ini harus dijalankan sebab jika tidak, mendesing ancaman sanksi di kalangan sekolah hingga pencopotan kepala sekolahnya.

Umumnya sekolah dalam beberapa hari ini, menyosialisasikan penerapan pola daring pada para orangtua siswa. Mereka mengatur jadwal dan teknik pelaksanaannya. Tak lagi menyoal efektif-tidaknya, kualitasnya seperti apa. Menekankan para orangtua bisa turut membantu anak-anak banyak belajar di rumah

Namun yang tak terelak dengan soal kesiapan penerapan model jarak jauh itu, terlebih di daerah, tantangan kepemilikan gadget atau android, hingga data penyambung jaringan yang belum dimiliki setiap anak. Tak setiap keluarga bisa memberi smart phone anak lantaran aspek kemampuan finansialnya.

Buntutnya, pada giliran tugas dari sekolah diberikan, sebagian anak mengerjakannya, ada juga yang mengacuhkannya. Penuturan Kepala SMPN 21 di Kec.Tamansari, Kota Tasikmalaya, Bambang Eka Budiman MPd, catatannya masih sangat banyak anak didiknya yang tak memiliki android memadai.

Akan tak efektif saat dipaksakan model daring. Ketika menggelar tatap muka, dirinya cukup mendengar ujungnya ada kepala sekolah yang mendapat sanksi keras. Lantaran tak boleh menggelar KBM seperti biasa. Dalam pengakuan berikut ia menyebutkan, kemungkinan KBM menerapkan model campuran.

Disiratkannya, model campuran ini maksudnya, daring yang sudah jadi perintah tetap dijalankan meski tak cukup yakin dengan efektivitasnya. Lalu, diadakan juga kegiatan anak hadir ke sekolah sekali seminggu dengan kedatangan sift, untuk pemberian bahan tugas belajar di rumah.

Hingga ke soal kesiapan data

Dalam penelusuran lainnya masih di kecamatan terujung wilayah selatan Kota Tasikmalaya itu, penuturan Kepala SMPN 15, Sugiharto MPd, senada ia dengan kepemilikan android siswanya yang belum menyeluruh, lantas tantangan berikutnya dengan klaim orangtua siswa, tak selamanya mereka dapat memberi kebutuhan data smart phone.

“Saat pembelajaran daring kita dapati anak tak ikut. Saat ditanyakan, jawaban yang datang dari orangtuanya mereka sebutkan tak bisa selamanya memenuhi keinginan anak untuk beli data android. Dari jawaban ini kemudian kita arahkan anak untuk belajar bersama, bergabung. Belajar berkelompok,” papar Sugiharto.

Masih dari pernyataan yang tertangkap, tak semudah meminta peserta didik belajar bareng, sebagian sekadar asal ada. Proses pendidikan yang seperti asal-asalan. Pemenuhan tugas yang copy paste. Tak sedikit lainnya yang abai. Bahkan kabarnya pun seperti mereka tak dapati.

Harapan-harapan para orangtua siswa, perlahan mulai bermunculan di jejaring medsos, untuk tak sebegitu terkungkung paranoid Covid-19. Di antara permintaan kepada pemerintah, kembali membuka aktivitas pendidikan di sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan yang kini mulai cukup populer. Seperti selalu memakai masker, jaga jarak, jaga kesehatan dengan sering cuci tangan.

Mereka sampaikan, tak mudah bagi umumnya orangtua siswa mengawal anak belajar di rumah. Di samping tak menguasai ilmu didaktik-metodik, luang waktunya kemudian lebih banyak diisi main. Sebagian orangtua menduga ketidakefektifan model belajar yang ada ini berimplikasi pada aspek kualitas yang menurun.

Absennya aspek mendidik

Harapan itu senada dengan pernyataan Kepala SMPN 12 di Kec.Kawalu, Kota Tasikmalaya, H Eman Suhaeman MPd. Pihaknya bersama para guru, aku dia, kini tengah fokus mengatur teknis pembelajaran daring. Namun di sisi lain, dirasanya ada aspek yang absen manakala terus dengan pola daring ini.

Saat berlangsung pembelajaran anak di sekolah, di situ mencakup dua hal yang jadi bagian prosesnya yakni, antara aspek mendidik dan mengajar pada anak. Sekilas yang ia maksud kalau aspek mendidik proses mendorong kedewasaan anak, menanami nilai-nilai moralitas dari tauladan-tauladan yang dipesankan.

Sedangkan proses mengajar, berlangsungnya transfer ilmu pengetahuan, isi buku, konten ajar berdasar kurikulum. Untuk mengayakan khasanah pikirnya. “Dari model daring ini, sepertinya aspek mendidiknya ini yang tak jelas. Anak-anak hanya diberi tugas untuk mengerjakan di luar sekolah,” imbuhnya.

Gamang

Tuntutan KBM daring bak yang penting asal terapkan. Terlepas dengan tingkat efektivitas atau capaian kualitasnya, dalam klaim ini pilihan dunia pendidikan di masa darurat. Di jenjang SMP, para pendidik mencatat tantangan di antaranya di kesiapan kepemilikan gadget dan datanya yang belum bisa merata.

Lain cerita yang terlontar dari pendidik di jenjang sekolah dasar. Seperti diungkapkan Kepala SD Tirtayasa, Azid Halim SPd, di Kelurahan Setiawargi, Kec.Tamansari. Yang didapatinya, tantangan masih berkaitan dengan kondisi stabilitas jaringan milik provaider seluler, belum sesiap layaknya di perkotaan.

Kemudian dilema yang dirasa, model daring tak yakin siap diterapkan bagi murid-muridnya di kelas awal. Dirinya dihadapkan rasa gamang. Tuntutan yang ada, tak boleh ada tatap muka. “Saya masih belum bisa membayangkan, mengajari anak yang baru masuk, kelas I, langsung menerapkan daring,” katanya.

Lanjut Ajid, mereka (anak-anak itu) harus bertemu gurunya yang sudah biasa membimbing, belajar di kelas/sekolah. Ada metodanya membimbing anak-anak ini beradaftasi di sekolah, belajar awal membaca hurup dan angka-angka, sesuai konten bahan ajar berdasar kurikulum. Opsi lain bersama gurunya, melakukan pembelajaran di rumah murid, dengan mengumpulkan sekitar lima orang, di satu rumah. Secara bergilir. gus

Tasikplus

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/W-JRJTUDA6Pp2A511aWOLloJnEbtPE-IO8Q6lTekQ0B1zTZVQ7Qz8Y1b7mgcjQvlw8e8mglom-Iyyg=s599-no} Tasikplus menyuguhkan kabar seputar Tasikmalaya dan wilayah sekitarnya {facebook#https://www.facebook.com/Tasikplus/} {twitter#https://twitter.com/skutasikplus} {google#https://plus.google.com/+SKUTasikplus} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UChrZkFoikBU9_r7s4pFafcg} {instagram#https://www.instagram.com/tasikplus/}
Diberdayakan oleh Blogger.