Keunikan Lokal Kampung Naga Tak Kalah Dengan Shirakawa-go di Jepang


Keunikan Kampung Naga Di Kampung Neglasari, Salawu,  Kabupaten Tasikmalaya
Kampung Naga di Tasikmalaya Jawa Barat  mengingatkan akan Desa UNESCO Shirakawa-go di Jepang.

Keunikan Kampung Naga menjadi daya tarik tersendiri wisata. Sehingga mereka yang datang sangat puas menyaksikan keunikan lokal yang khas.

Letak geografis yang dihimpit pegunungan nan hijau di  Desa Neglasari, Salawu,  Kabupaten Tasikmalaya, menjadikannya sebagai Kampung wisata percontohan.

Keunikan lokal yang masih dipertahankan seperti Urang Kanekes di Badui Dalam tetap  dipertahankan.

Komunitas Jelajah Budaya (KJB)  merasakan syahdunya kampung adat yang terletak di lembah ini. Aksesnya pun terletak di antara jalan utama Garut dan Tasikmalaya.

Tiba di lokasi, pengunjung  harus  melakukan registrasi di Kantor Koperasi yang terletak persis di area parkir kendaraan. Setelah daftar, pengunjung juga diminta donasi seikhlasnya untuk jasa berkunjung serta pemandu lokal.

Dari area parkir, perjalanan yang sesungguhnya menuju Kampung Naga dimulai melalui ratusan anak tangga yang menurun ke bawah. Menolak modernisasi, warga Kampung Naga memang masih hidup seperti apa adanya.

Setengah perjalanan, tampak jelas deretan rumah tradisional yang berjajar di lembah nan hijau dari ketinggian. Deretan rumah yang beratap segitiga pun mengingatkan akan Desa Shirakawa-go di Jepang. Di satu sisi, sungai dan hamparan terasering khas ala Bali juga mempercantik kampung adat tersebut.

Setelah sekitar 10 menit perjalanan menurun dari gerbang utama, sampailah traveler di Kampung Naga. Tiba sore hari setelah hujan, suasana pun kian syahdu dan menenangkan.

"Tidak ada kaitannya dengan ular apalagi naga. Tebing jadi nagawir (bahasa sunda)," ungkap pak Maun.

Lebih lanjut, Pak Maun mengatakan ada sekitar 113 rumah di Kampung Naga termasuk bale dan masjid. Jumlah penduduknya ada sekitar 296 orang. Namun, tak ada sarana pendidikan di sana.

Mayoritas warga pun berprofesi sebagai petani hingga pengrajin. Mereka pun punya enam tradisi budaya yang masih dilakukan hingga saat ini di momen-momen tertentu.

Selain bisa mengenal lebih dekat budaya warga di Kampung Naga, traveler juga bisa membeli sejumlah buah tangan yang mereka jual dengan uang tunai. Oh iya, traveler juga diperkenankan memotret. Hanya saja tidak semuanya, ada beberapa larangan yang harus dipatuhi.

Berkunjung ke Kampung Naga pun mengajarkan kita, bagaimana hidup arif dan selaras dengan alam dan tradisi leluhur. Tiada listrik atau gadget, tapi ada alam yang memiliki segalanya. Mampirlah jika datang ke Tasikmalaya.* sit/travel.detik.com