Dikky Yakini Banjir-Longsor Dipicu Curah Hujan Tinggi

Jembatan Cipatujah dalam ruas jalan nasional ini ambruk setelah ada banjir bandang yang melanda Sungai Pasanggarahan. Dalam beberapa hari memasuki pertengahan November ini, jembatan dalam opsi ganti dengan jembatan //bailey//, untuk melancarkan arus lalu lintas dan membuka keterisoliran desa-desa di seberang jembatan.
Beberapa hari lalu, hujan tiba dengan instensitas tinggi, setelah kemarau sekitar empat bulanan. Kekeringan lahan-lahan sawah dan kebun mulai berubah basah. Namun tak ayal musim hujan mengisahkan sejumlah daerah terkena bencana banjir dan longsor.
Dalam area kerja UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) WS (Wilayah Sungai) Cilaki-Ciwulan Tasikmalaya, Dinas PSDA Jabar, dikabarkan secara sporadis area pemukiman warga terkena banjir serta lahan terkena longsor. Dampak kejadiannya dirasakan panjang.
Seperti luapan air Sungai Cikidang menggenangi kawasan utara pantai Pangandaran. Sungai Tonjong meluap menimbulkan banjir di pusat kota Kec.Parigi, Pangandaran. Yang tak kalah mengejutkan bancana banjir dan longsor di selatan Tasikmalaya, hingga membawa korban nyawa di samping banyak titik terendam.
Terlaporkan ada enam warga meninggal di wilayah selatan Kab.Tasikmalaya. Bahkan, bentang jembatan panjang dan lebar di ruas jalan nasional, di Kec.Cipatujah, hingga ambruk, bersamaan datangnya banjir bandang, Senin (5/11) malam.
Ada kalangan mengaitkan merebaknya banjir dan longsor terkorelasi dengan tatanan lingkungan atau struktur alam yang sudah berubah, rusak. Hutan-hutan gundul, kurang pepohonan, membuat arus air langsung mengalir, tak tertahan meresap di tanah layaknya area yang berpepohonan.
Kepala UPTD WS Ciwulan-Cilaki Tasikmalaya, Dikky Ahmad Sidik, dalam keyakinan ikhwal pemicu merebaknya banjir-longsor di wilayah kerjanya, berkaitan dengan intensitas hujan yang turun tinggi. Bercurah hujan lebat dan berlangsung lama.
Kejadian banjir bandang hingga longsor di selatan Tasikmalaya, Senin (5/11) malam, yang kemudian merenggut nyawa enam orang, kata dia, sebelumnya turun hujan sangat lebat. Intensitasnya lebih dari biasa atau jauh dari angka curah hujan normal.
Jika BMKG menetapkan, hujan bercurah turun 50 mm (milimeter) saja sudah terkategori lebat. Hujan normal dalam curah 30-35 mm. Yang ia catat, ketika efeknya banjir merebak di selatan Tasik, pada Senin malam lalu itu, kondisinya bercurah hujan mencapai 493 mm. Malah, pada titik lain di sekitarnya sampai 500 mm.
Menyoal hujan deras ini seterusnya, beber dia, data di Balai Bendungan, pun ada curah periode 100 tahunan yang angkanya itu sampai 400 mm. “Yang kejadian kemarin 493, jadi tinggal menghitungnya saja. Ini soal curah hujan ekstrim, belum lagi saat peristiwa itu hujan turun berwaktu 12 jam,” ungkapnya, Kamis lalu.
Di soal mengukur curah hujan ini, kantornya memiliki alat pengukur. Ia pun memonitor turunnya hujan dalam wilayah kerja dengan satu aplikasi yang terlaporkan instan. Lainnya, seperti dengan kejadian meluapnya Sungai Cikidang di Pangandaran, data curah hujan yang ia pegang hingga 500 mm.
“Jadi, keyakinan saya ini dipicu soal curah hujan ini. Bisa dibayangkan kan, hujan turun dengan sangat lebat. Kemudian meluap dari sungai ke pemukiman. Pada kondisi lain, setelah lama kemarau, saat hujan turun otomatis membawa bagian permukaan tanah yang kering. Air tak banyak tertahan atau meresap. Pada kondisi lainnya, banjir terpicu kondisi sungai yang sudah mendangkal oleh sedimentasi, seperti temuan untuk Sungai Cikidang, Pangandaran,” bebernya.
Opsi penanganan ini dalam kewenangannya yang dimungkinkan, antara lain dengan pengerukan material dalam sungai-sungai. Material berasal abrasi tanah. Malah yang ia dapati di Sungai Cikidang, Pangandaran, endapan dalam sungai yang cukup meninggi itu asal pasir laut yang terbawa saat air laut pasang. gus