Warga akui masih trauma dan takut gelombang tinggi di laut selatan Tasikmalaya kembali terjadi.



Tenda pengungsian warga bencana gelombang laut tinggi Cipatujah.

Cuaca ekstrim dan gelombang tinggi terjadi di sepanjang perairan pantai di selatan Kab. Tasikmalaya selasa (24/7). gelombang air laut saat itu capai 5-6 meter yang sebabkan tumpahan air laut sampai ke pemukiman warga yang jaraknya berkisar 100 meter dari bibir pantai, kepanikan warga kian menjadi karena saat meluapnya air laut menggenangi rumah-rumah mereka di barengi dengan tiupan angin yang sangat kencang. Saat kejadian itu ratusan warga asal sejumlah desa di Kec. Cipatujah dan Cikalong langsung meningglkan rumah mereka menuju tempat yang lebih tinggi guna menyelamatkan diri.

Dari pantauan Tasikplus tingginya gelombang air laut hingga menggenangi rumah warga membuat ratusan kepala keluarga terpaksa memilih meninggalkan rumah mereka menghindari kian tingginya air laut yang genangi rumah mereka. Mendapati hal tersebut relawan BPBD Kab. Tasikmalaya langsung membangun puluhan tenda sebagai tempat pengungsian warga. Dari data yang di dapat sebanyak 115 kepala keluarga asal desa Sindangkerta dan 22 KK dari desa Cikawungading memilih tinggal di tenda pengungsian yang di dirikan relawan, Hingga 3 hari usai kejadian tersebut ratusan jiwa warga tersebut memilih bertahan di tenda pengungsian karena mereka mengaku takut dan kuatir angin kencang dan gelombang tinggi kembali terjadi lagi."kami merasa lebih tenang tinggal di tenda pengungsian dari pada kembali ke rumah karena masih takut dan trauma gelombang tinggi akan kembali terjadi" ucap wahyu, salah satu warga desa Sindangkerta yang mengungsi.


Perasaan takut juga di rasakan oleh warga di pesisir perairan laut selatan Kab. Tasikmalaya lainya. yayat salah satu warga Kp. Bubujung desa Ciheras Kec. Cipatujah mengaku memilih tinggal lebih lama di rumah saudaranya yang berada sekitar 2 Km dari warung yang sekaligus jadi usaha warung di pantai Bubujung, menurutnya sebelum kondisi laut betul-betul normal dirinya bersama istri dan ketiga anakanya memilih untuk tinggal di rumah saudaranya.
"saya akan tetap tinggalkan rumah sampai kondisi air laut normal walaupun tak tahu kapan waktunya.
pungkasnya.
Oleh: MZ. Saeful