Petani Kopi Tasik Bergeliat, Harapkan Sokongan Lebih Pemerintah

 

Dalam areal luas lahan potensi pertanian, perkebunan wilayah Kab.Tasikmalaya, di antara komoditas dihasilkan meski dengan skala kecil adalah buah kopi. Sejak lama tertanam dengan hamparan tersebar, tak terkonsentrasi di satu kawasan. Skala produksinya yang kecil, mengisahkan pemasarannya yang hanya masuk di toko-toko hasil bumi.

Namun seiring situasi yang berkembangan. Pola serta gaya hidup yang tak henti berjalan, di antara potret kekinian, tren konsumsi kopi merebak. Diikuti bermunculan kedai-kedai serta kafe kopi yang memanjakan penikmatnya. Melengkapi ragam produk kemas kopi siap seduh di warungan asal merek-merek terkenal.

Perlahan itu memberi imbas serapan produksi meninggi. Penanaman bergeliat. Di perjalanan tahun 2014, kalangan petanam/petani kopi ini di Tasikmalaya kemudian menghimpun kelompok dan semangat usaha dalam wadah Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki) Tasikmalaya.

Organisasi yang kemudian cukup memasilitasi kepentingan dan spirit usaha. Sejalan kepentingan atau kebutuhan perhatian yang tak saja di basis budidaya, tapi sampai ke standarisasi pengukuhan mutu, dukungan peralatan produksi, pemasaran, hingga ke harapan dukungan tinggi kebijakan pemerintah dalam rangkaian serapan pasar yang dapat memberi efek kesejahteraan masyarakat banyak.

Keterangan Ketua Apeki Tasikmalaya, Rahmat Egin, catatnya saat ini bertanam kopi cukup menjanjikan. Hamparan tanam budidaya kopi ini sekarang di Kab.Tasikmalaya, terus berkembang mencapai 8.000 hektar. Yang sudah instan berproduksi hampir 500 hektar. Jumlah produksinya kurang lebih 350 ton/tahun.

Angka petani petanamnya sekitar 1.000 orang dengan luas area tanam per orang berkisar 0,5 – 5 hektar. Penanaman menghampar mulai Kec.Kadipaten, kawasan Cakrabuana, Galunggung, Taraju dan Kec.Cigalontang. Dua jenis populer dunia kopi terdiri arabika dan robusta, ada di Kabupaten Tasikmalaya.

Ketika semangat budidaya melejit saat ini, tak ayal tantangan dirasakan mereka. Tak kalah harap dari pemerintah berupa kebijakan lebih berpihak. Harapan yang dirasa itu akan berkorelasi pada serapan produk yang lebih baik pada petani. Kemudian keuntungan lain diraih pada keahlian olah produk kopi sampai menghadirkan serapan ketenagakerjaan.

Dibeberkan Rahmat, sejauh ini pemasaran kopi asal Kab.Tasikmalaya, cukup mengalir ke wilayah Kota Tasikmalaya. Bersamaan merebaknya usaha-usaha kreatif menyajikan suguhan kopi di kedai-kedai atau kafe kopi. Lainnya pemasaran, ke Bandung, Jabodetabek. Malah, ada yang terjual ekspor dibawa eksportir.

“Nah ketika yang diharapkan perhatian pemerintah, maksudnya bagaimana dukungan-dukungan bagi pengembangan usaha dalam kemampuan-kemampuan terus terserap, terutama dalam proses olahan saji kopi ini di masyarakat, seperti di keahlian-keahlian roasting, profesi barista, dll. Yang itu masih terbuka prospeknya,” beber Rahmat.

Pengembangan penyerapan keterampilan itu, tentu bisa disebar lewat pelatihan-pelatihan. Selama ini di masyarakat masih dinilai langka dan mahal gelar pelatihan. Banyak kedai atau kafe tak memiliki barista, yang itu dapat mengimbas kurangnya nilai jual pengelolaan usaha. Kesempatan lainnya sebagai roasting. gus