Hj Nunung Bertekad Turunkan Angka TFR ke 2,03

Dra Hj Nunung Kartini 

Menjalankan kinerja program kependudukan daerah. Khususnya untuk mendorong keluarga sehat, sejahtera, atau berkualitas. Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kota Tasikmalaya, menyiasati itu dengan terus berikhtiar menurunkan angka kelahiran total, atau populer dengan istilah total fertility rate (TFR).

Dalam satu perbincangan dengan Kepala DPPKBP3A Kota Tasikmalaya, Dra Hj Nunung Kartini MPd, Selasa pekan lalu, ia yakini, memerhatikan TFR yang rendah dalam kerangka pertimbangan mengupayakan laju kesejahteraan masyarakat. TFR tinggi berkorelasi dengan rata-rata usia kawin usia muda.

Langkah tersebut selain memacu kepesertaan masyarakat berKB yang lebih meningkat. Sejauh ini, sebutnya, angka TFR Kota Tasik di kisaran 2,13. Yang jadi obsesi Hj Nunung, TFR dalam perjalanan di tahun-tahun depan di angka 2,03. “Saya ingin berupaya hingga capaiannya di akhir kepemimpinan pak wali, tahun 2022 TFR ini di angka 2,03,” jelasnya.

Melihat total fertility rate secara nasional, berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2017, bertren menurun. Dari posisi 2,6 anak per wanita subur menjadi 2,4 anak per wanita subur. Tekad pemerintah dengan capaian itu masih harus diturunkan lagi, menjadi 2,1, sebagai syarat penduduk tumbuh seimbang.

Penjelasan Hj Nunung, sebenarnya dengan posisi angka kelahiran total sebesar 2,13, sudah bagus. Angka TFR Jawa barat 2,24. Dengan capaian itu, artinya tiap seorang perempuan (usia 15-49) rata-rata memiliki 2-3 orang anak selama masa suburnya.

Memerhatikan angka kelahiran penting, untuk menghindari terjadinya lonjakan pertumbuhan penduduk. Mengikhtiarinya turun angka, sambungnya, dalam logika untuk memacu tingkat kesejahteraan tiap keluarga. “Jika satu keluarga dengan ekonomi kecil, anaknya sedikit kan bisa lebih memungkinkan ia mengurusi keluarganya,” ucap pejabat yang baru bertugas di BPP-KB sekitar dua bulan itu.

Yang jadi orientasi lain dari langkahnya, terus mengampanyekan kepesertaan berKB masyarakat. “Saya pun optimistis melihat perkembangan masyarakat sekarang bahwa aktif berKB sudah jadi kebutuhan, meski di level-level tertentu masyarakat masih perlu bimbingan petugas di lapangan,” ungkapnya.

Menggenjot kepesertaan BerKB bersama penurunan TFR, bebernya, seperti sekarang pemerintah pusat pun gaungkan melalui program pembentukan Kampung KB. Berusaha mengefektifkan kegiatannya. Melalui program itu, upaya-upaya bisa lebih intens terkonsentrasi, dengan pelaksanaan kegiatan di dalamnya bersama lintas sektor.

Yang diarahkan program itu, di setiap kelurahan ada satu penempatan program Kampung KB, sebagai //pilot projeck//. Ke depannya, program ada dalam lingkup satu wilayah RW. Penempatan program ini pun akan jadi ruang pemecahan permasalahan-permasalan yang ada. Data peserta KB aktif di Kota Tasik 86.565 orang, angka PUS-nya 120.161 orang. gus