Jalan Cijurig di Gunungtanjung Cukup Mengundang Tanya


Jadi memasyarakat dengan nama Cijurig. Siapa tak mengenal sebutan nama tempat itu. Bentang jalan di ruas menghubungkan Manonjaya – Salopa, dalam wilayah Kec.Gunungtanjung, Kab.Tasikmalaya.

Sekilas dengan potret jalan ini, berkelok, naik-turun, di antara bebukitan dengan tepian penuh rindang pepohonan. Paling dominan menghijau pohon-pohon bambu. Ketika melintasinya, terasa berhawa dingin, cep, teduh.

Secara administratif tepatnya masuk dalam wilayah Desa Tanjungsari, Gunungtanjung. Sebutan nama sangar itu ternyata jadi nama pengganti aslinya atau semula yakni, daerah Parakanmanggu, di sekitar Kp.Leuwidahu.

Sejak lama nama Cijurignya mengalahkan nama yang sebenarnya. Ujungnya kini, sebagian orang mengait-ngaitkannya istilah atau nama itu dengan pemahaman tentang mahluk gaib.

Lebih tenang memilih melewatinya selagi siang. Mengindentikkan nama bisa setelah muncul pemicunya. Bisa juga hanya lantaran duga-dugaan, dipapantes.

Belum jelas, siapa yang memberikan penamaan Cijurig. Hingga sekarang warga di sekitarnya pun tak banyak mengetahui. Apalagi orang luar daerah. Kelihatannya, di sekitar sejak lama tak ada rumah terbangun, kecuali sekarang atau di kekinian, tampak di antara warga mendekat dirikan bangunan.

Saat Tasikplus berada di lokasi, kemudian mencoba mencari tahu, tak lama bertemu langsung Kepala Dusun (Kadus) Leuwidahu, Ejen. Yang tertangkap mengemuka dari sosok pengurus lingkungan ini pun berujar tak tahu siapa dulu memberi nama Cijurig.

Yang jelas sekarang begitu akrab namanya. Cuma pendapat Ejen, penamaan takkan lepas/muncul dari warga sendiri, baik setelah mengait-ngaitkan dengan suasana daerahnya yang berciri tersendiri, khas, atau dengan satu kejadian.

Masyarakat sendiri, ulas Ejen, yang memberikan istilah Cijurig. Ia pun tak menampik dengan cerita warga, ada beberapa kejadian bertemu mahluk astral dengan berbagai jenis kala warga berkendara.

Di bawah rindang pepohonan bambu meluas, pada siang hari terasa hening. Di kala malam cukup gelap, sehingga bisa dirasa benak sekalangan warga dalam perasaan terpengaruh takut ini-itu.

“Siang lengang, serasa sepi. Di kala malam sangat terasa hawa magisnya, lantaran berada di jalan berpepohonan gelap gulita, sayapun acap agak miris kalau kebetulan lewat ke situ malam-malam,” imbuh Kadus Ejen.

dikuatkan

Senada dalam obrolan berikut dengan Kepala Desa (Kades) Tanjungsari, Miftah Farid, dirinya tak banyak tahu kapan dan oleh siapa daerah Parakanmanggu jadi daerah Cijuirg.

Pun seterusnya penuturan kades ini tak memungkiri saat mengaitkan ada warga berpersepsi, penamaan dikait-kaitkan dengan obrolan seputar adanya mahluk astral.

Malah menurut sang kades, keterangan seputar mahluk astral ini setengah dikuatkan obrolan yang didapat dari para praktisi supranatural. “Jadi, masyarakat sekitar menyebutnya Cijurig kaitan lebihnya bisa dengan fenomena (mahluk astral) itu,” ucap kades.

Ia pun menyebut ada sosok dituakan dulu yang bisa dikorek keterangannya lebih jauh, yakni Abah Abas. Namun sekarang sosok ini sudah meninggal dunia. “Pesan saya sih pada seluruh warga pertebal keimanan, ketaqwaan kepada Alloh SWT, sehingga tidak terbawa oleh hal-hal yang bisa menyesatkan diri,” pintanya.

Harap dipasangi PJU

Pada obrolan lain dengan masyarakat, terlebih yang biasa atau banyak melewati ruas jalan itu asal sekitar Kec.Manonjaya sampai daerah/Kec.Salopa khususunya, berharap ada pemecah kegelapan.

Harapan diarahkan pada pemerintah, jelasnya biasa memasang lampu penerang jalan umum (PJU) di sekitar Cijurig. Sebab, masih di sekitar lokasinya ada titik rawan kecelakaan, terlebih di tempat yang dicatat warga, angker.

Dengan penempatan lampu PJU, akan membuat area itu terang kala malam. Pengendara terhindar dari pandangan samar-samar di kegelapan. Termasuk bisa berpeluang terhindar dengan aksi pelaku kejahatan. “Kita berharap kepada pemerintah, di lokasi jalan ini dipasangi lampu penerang jalan. Biar orang berniat jahat pun menghindar,” jelas Ateng, penduduk tak jauh dari titik jalan Cijurig dengan keseharian berjualan BBM dan tambal ban.
---
Oleh: Ade