Katak Si Pelompat


Siapa sangka katak tenyata sering digunakan menjadi tokoh utama fabel maupun dalam cerita klasik. Sebut saja legends Pangeran Katak yang terkenal itu, atau dongeng Katak Yang Bijaksana dari negeri seberang.

Termasuk penulis sukses Brian Tracy juga berkisah tentang katak dalam bukunya Eat That Frog. Ada lagi, kisah Katak Si Pelompat yang menurut saya berbeda dan yang lain. Saudara mau dengar? Jadi, begini ceritanya.

Suatu siang sekelompok katak berlomba-lomba untuk melompati sebuah dinding yang tinggi. Sebab di habitat mereka sekarang, cadangan makanan sudah menipis, dan sumber air pun semakin habis.
Mereka percaya bahwa dibalik dinding itu ada harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Maka satu persatu para katak mencoba melompat setinggi mungkin.

Tetapi dinding itu terlalu tinggi. Apa days, tidak ada yang lompatannya melebihi ketinggian dinding tersebut. Perlahan katak-katak mulai menyerah. Awalnya hanya seekor, kemudian sepuluh ekor, lama-lama hampir semuanya gagal.

Kini tersisa dua ekor katak saja yang masih tentu berusaha. Keduanya menjadi pusat perhatian teman-temannya yang lain, dalam hitungan detik, akhirnya seekor katak menyerah lagi! Jadi kini tinggal katak terakhir yang terus saja mencoba. Meskipun diiringi sahut menyahut ujaran pesimis kawanannya, ia tetap berjuang tanpa mengenal lelah. Hingga akhirnya ia berhasil mencapai puncak dinding!

Katak lain tentu saja takjub dengan kejadian tersebut. Mereka bersorak memanggil Si Pelompat temannya itu, "Hai sobat! Hebat juga kau!" . "Kau memang luar biasa! Hai kawan! Kenapa kau diam saja!" . Si Katak Pelompat tidak merespon panggilan rekan-rekannya yang masih berada di bawah dinding. Padahal suara mereka keras sekali. Rupanya, Si Pelompat adalah seekor katak yang tuli
Begitulah kisahnya. Bagi saya, apa yang hendak dituturkan oleh kisah ini bermakna sekali. Rupanya, untuk berhasil menjadi pemenang kita harus tuli terlebih dahulu. Kita mesti tuli terhadap ucapan negatif yang terlontar dari orang-orang. Seperti sindiran, nyinyiran, pesimis, dan sebagainya.

Kita pun harus tuli dari ujaran-ujaran syeitan yang mengajak kepada perbuatan negatif Seperti malas, putus asa, ragu kepada pertolongan Allah, dan sebagainya. Intinya tuli dari bisikan yang melemahkan, baik dari golongan jin maupun manusia.
"Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia." - (Surat An-Naas: 4-6)
Karena sebenarnya semua manusia mampu melompat melewati dinding kegagalannya. Hanya karena ia terpengaruh oleh pihak luar, akhirnya ia menyerah. Percayalah di balik dinding itu ada harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik.***