Tasikplus.com-Menghadiri dan memberi sambutan di kegiatan pelantikan mahasiswa baru (Maba) kampus Unper Tasikmalaya, anggota pembina lembaga penaung Unper, Yayasan Universitas Siliwangi (YUS), Mayjen TNI (Purn) Dedi Kusnadi Thamim, mengingatkan warga kampusnya mengisi optimal kesempatan belajar.
Dalam satu paparannya ia gambarkan perkembangan zaman kini lebih memberi peluang pada mereka yang punya kemampuan atau kompeten, unggul, berintegritas. Hanya mereka yang siap yang dapat menyongsong masa depan.
Pada bagian lain rangkaian pesannya, Mayjen (Purn) Dedi Thamim memunculkan istilah menggelitik yang terdengar bikin penasaran. Ia meminta warga kampusnya tak jadi mahasiswa kupu-kupu. “Saya minta saudara semua tak jadi mahasiswa kupu-kupu”, jelasnya pada kegiatan di kampus Universitas Perjuangan (Unper) itu, Selasa (15/9/26).
Sebutan itu tak ubahnya akronim yang kemudian ia jelaskan, kupu-kupu kependekan dari, kuliah pulang kuliah pulang. Hanya berada di kampus sesaat atau saat ada pembelajaran di ruang kelas, lalu pulang.
Menurut sang jenderal, dia kurang berusaha beradaptasi di pemahamannya. Kurang beradaptasi dengan lingkungan kampus. Tidak mencerminkan dirinya sebagai generasi penerus hebat. Menimba ilmu alakadarnya. Padahal di luar itu, banyak yang bisa digali di kampus ini, di luar perkuliahan.
Sebaiknya posisikan sebagai generasi yang siap menyongsong masa depan. Bukan kuliah asal sampai, lalu lulus punya titel sebagai sarjana. “Tidak itu yang saya inginkan. Tapi bagaimana saudara punya karakter, berbudaya. Punya kemampuan menghadapi persoalan”, ujarnya.
Masih menurut Dedi, menjadi mahasiswa bukanlah sekedar bergantinya status dari siswa sekolah menengah menjadi peserta didik di perguruan tinggi. Menjadi mahasiswa adalah sebuah transformasi. Sebuah peralihan dari penuntut ilmu yang bersifat pasif menjadi pencari kebenaran ilmiah yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab.
Menerangkan makna menjadi insan akademik di era modern saat ini, bebernya, tidak sekedar diukur dari tingginya angka indeks prestasi kumulatif IPK yang itu adalah hal baik dan patut diperjuangkan. Tetapi integritas ilmiah dan kapasitas intelektual jauh lebih luas dari sekedar angka penguasaan panggung, dan teknologi dunia saat ini bergerak sangat cepat.
“Halnya kita saat ini berada di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, otomasi, dan integrasi digital. Insan akademik yang unggul adalah mereka yang tidak gagap teknologi, tapi juga mampu menguasai memanfaatkan dan mengembangkan teknologi untuk kemaslahatan manusia. Sehubungan itu, saudara harus rajin membaca, meneliti, dan berdiskusi”, pintanya. gus

0Komentar