Hj Nurhayati: Ibu-ibu Punya Tugas Penting

Mengunjungi Kota Tasik, Hj Nurhayati Effendi bersama Ka.BKKBN Jabar Fajar Supriadi Sentosa, mengisi kegiatan Pembinaan Keluarga Berisiko Stunting Bersama Mitra Kerja. Dihadiri ratusan warga.
Tasikplus, 13 Agustus 2023                                                                                                    Minggu (13/8). Anggota DPRI RI Hj Nurhayati Effendi, didampingi Kepala Perwakilan BKKBN Jabar Fazar Supriadi Sentosa, mengunjungi Kota Tasikmalaya. Kemudian mengisi acara atau menjadi pemateri kegiatan Pembinaan Keluarga Berisiko Stunting Bersama Mitra Kerja.

Kunjungan dipusatkan di GOR Kompak, di pusat kota Kecamatan Kawalu. Dihadiri ratusan orang dengan dominan warga Kecamatan Kawalu. Selain kedua pemateri, ada juga Kabid Dalduk-KS Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan, Perempuan, dan Perlindungan Anak (PPKBP3A) Kota Tasikmalaya, dra Nina Setiamah MSi.

Sejak pagi, undngan mulai berdatangan ke lokasi. Peserta yang menghadiri acara tampak di atas 80 persennya terdiri kalangan ibu-ibu, lalu para kader, kalangan remaja, jajaran para ketua RT/RW, serta unsur muspika. Mengemuka juga dalam acara bahwa Kec.Kawalu merupakan wilayah dengan angka stunting tertinggi di Kota Tasikmalaya.

Mengawali paparan materi, Hj Nurhayati mengajak para ibu mengambil bagian penting dalam keseharian aktivitas rumah tangga. Khususnya untuk menjaga kesehatan keluarga. Hingga terhindar dari risiko kelahiran yang membawa kematian ibu dan anak. “Kemudian juga punya tugas penting menghindari kena risiko stunting”, beber anggota Komisi IX DPR RI itu.

Pemerintah tengah fokus menekan penyebaran stunting. Menargetkan penurunan hingga di angka 14 persen pada tahun 2024. Saat ini masih di atas 20 persen. Sebegitu serius langkah mendorong penurunan stunting ini sebab jika tidak bisa membuat Indonesia //lost generation//. Upaya mencegah ini tak bisa dilakukan sendiri pemerintah, melainkan harus bersama-sama.

Pada bagian lainnya, Hj Nurhayai, mengingatkan pentingnya banyak belajar, hingga memahami hal-hal yang diperlukan. Tentunya juga dalam pencegahan stunting. Penekanan berikutnya ia, terhadap bapak-bapak yang hadir untuk sama-sama membantu, menjaga hidup sehat, keluarga sehat. Lingkungan sehat. Tersedianya sanitasi baik. Ini semua dapat menghindari risiko stunting.

“Bantu jaga kesehatan keluarga, bantu ibu-ibu jaga stunting, dengan tidak merokok di dalam ruangan terutama yang ada ibu-ibu dan anak-anak”, jelasnya yang terus disambut riuh.

Pentingnya mendorong kualitas SDM
Pada giliran Fazar Supriadi mengisi materi, kaper BKKBN baru ini mengawali paparan dengan mengajak yang hadir berpikir tentang pentingnya mendorong peningkatan kualitas SDM saat ini. “Kita masuk kelompok negara yang warganya masih dalam deret berkualitas SDM rendah. Hasil satu survei IQ teranyar dari 199 negara disurvei, Indonesia di posisi ke-130. Kalah oleh Cina, Korsel”, sebutnya

Negara-negara maju sudah mengonsep memersiapkan generasinya sebaik mungkin. Indonesia pun perlu seperti itu. “Mereka memersiapkan generasi sebaiknya-baiknya. Di negara maju tidak boleh ada stunting. Kalau warga negara sudah pintar-pintar tidak akan mudah terhasut. Seperti dengan menerima WA-WA langsung share-share saja. Karena ia faham”, ucapnya.

Disebutkan, saat ini ada catatan, penduduk Indonesia mengalami peningkatan angka harapan hidupnya. Namun dari catatan di Kemenkes, kenaikan angka harapan hidup ini masih belum diimbangi dengan tren kesehatannya. Sehingga ia sering ke puskesmas, ke pustu, tidak gagah berani atau sehat.

Di pengujung bahasannya, Fazar mengingatkan ikhwal pentingnya mengawal upaya menurunkan prevalensi stunting. Tasikmalaya masih dengan angka 22,45 persen yang harus terus ditekan. Arahannya, ia soroti tentang intensitas sosialisasi hindari menikah pasangan usia muda. Didapati juga masih tingginya konsumsi air dari sumber air tak layak, masih banyak jamban tak layak, yang dapat memicu infeksi. Lalu peran TPK disarankannya, lebih intens dampingi para catin (calon pengantin). gus
 

0 Komentar