Perajin Tahu-Tempe Kelimpungan Terimbas Harga Garam Melambung

Para perajin tahu-tempe di Kota Tasikmalaya, berusaha bertahan meski dengan mengurangi angka produksi, menyusul melambungnya harga garam krosok.
Para perajin industri makanan tahu-tempe, akrab dengan garam krosok. Salah satu bahan penting dalam pembuatan panganan itu. Dalam kurun sekitar dua bulan ini, garam krosok membumbung harganya. Para perajin malah mengistilahinya berganti harga.


Akibat kenaikan yang berkali-kali lipat itu, para perajin produksi makanan tahu-tempe dibuat kelimpungan. Demikian yang dirasakan para pelaku industri ini di Kota Tasikmalaya. Mereka terkena dampak yang cukup memberatkan.

Dari penuturan para perajin, semula harga garam ini berkisar Rp 60 ribu dalam ukuran jual kemas karung berisi 50 kg, saat-saat ini menjadi Rp 280 pada ukuran itu. Akibat kenaikan harga bahan baku ini membuat ongkos produksi meroket.

Seperti dibenarkan Sekretaris Himpunan Perajin tahu dan tempe (HPT2) Tasikmalaya, Imin Muslimin, kenaikan harga melambung garam krosok di berbagai daerah termasuk di Kota Tasik, telah menyebabkan banyak perajin kelimpungan.

Ada perajin yang terpaksa mengurangi jumlah produksi. Hingga pilihan mengurangi jumlah pekerja setelah angka produksi dikurangi. Saat ini para mengeluhkan tambahan biaya produksi. “Ini sudah sangat memberatkan perajin, di saat biasanya memasuki bulan Ramadan yang naik angka penjualan karena kebutuhan masyarakat meningkat," kata Imin, Senin (03/4).

Kondisi harga garam itu berantai dari harga kacang kedelai yang juga masih cukup tinggi atau dikisaran Rp 11.200 per kg. Para perajin menyebutnya, garam berganti harga, memberatkan.

"Ini mah bukan naik lagi, dari yang asalnya cuma Rp 50.000 (per karung isi 50 kg), sekarang menjadi Rp 280.000 dengan ukuran sama, tapi ganti harga tinggi", tutur Yadi (42), seorang perajin tahu di betulan Kampung Nagrog, Kec.Indihiang, Kota Tasikmalaya.

Menurut Yadi, untuk kepentingan produksi tahu perusahannya, setiap hari membutuhkan 100 kg garam krosok. Dengan kebutuhan tersebut saat harga garam Rp 60 ribu membutuhkan Rp 120.000, dan sekarang setelah harga garam berganti menjadi Rp 280 ribu per karung, kebutuhan untuk 100 kg garam menjadi Rp 560.000.

Ketika bahan garam naik sementara harga penjualan tahu di pasaran tak gampang ia naikkan, alias tetap, dampaknya pengeluaran tambahan modal tidak bisa tertutup produksi. Efeknya, imbuh Yadi, produksi diturunkan yang biasanya 5 kwintal, sekarang hanya 3 kwintal. red

 

0 Komentar