Prof Deden Klaim Kampusnya Tanggap Perubahan

Prof Deden Mulyana

Menteri Kelautan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti, sempat mengingatkan para akademisi, bisa segera menyesuaikan konsepsi orientasi pendidikan lewat kurikulumnya ke dalam kekinian yang penuh deru. Terlebih dengan kepesatan digitalisasi produk teknologi informasi-komunikasi.

Masifnya teknologi digitali memengaruhi setiap lini kehidupan. Selain itu, revolusi industri yang sekarang diistilahkan memasuki era Industri 4.0. Digitalisasi dipersepsikan merebaknya penggunaan teknologi informasi komputer berjaringam internet dalam era global.

Adapun istilah Industri 4.0, berasal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah Jerman mengaplikasikan komputerisasi pabrik. Pengistilahan pun tentu setelah terintis adanya fase perkembangan tren industri sejak berangka satu sampai tiga di zaman sebelum ramai era digital.

Menanyakan ikhwal tuntutan itu di lingkup pendidikan tinggi, khususnya di kampus Unsil, dalam satu obrolan bersama Pembantu Rektor I Unsil, Prof Deden Mulyana, dijawabnya tantangan tersebut memang sebagai keharusan yang mesti disikapi. Direspons.

Menghadapi era Iindustri 4.0, mau tidak mau dunia pendidikan mesti menyesuaikan. Harus bisa menyikapi. Sejak prodi dan isi kurikulum. Pun ketika memertahankan penyelenggaraan prodi yang ada, mesti ada penyesuaian. “Muatan atau isi kurikulum mesti disesuaikan,” jelasnya.

Yang paling kentara dengan era atau zaman industri ini, sebutnya, sarat dengan penempatan basis teknologi informasi, era digital. Semua mesti diarahkan ke arah itu, dalam bentuk digitalisasi. Tak bisa lagi bisa bertahan dengan kurikulum konvensional.
Termasuk jika memerhatikan kondisi peluang pekerjaan bagi lulusan yang mungkin tereduksi, dengan hadirnya program pengganti di era disrupsi digital ini. Beberapa pekerjaan manual dengan dominan keterlibatan orang sudah terancam.
Kita sudah melangkah. Untuk setiap program studi dalam kurikulumnya. Contoh, di jurusan Manajemen. Menjadi seorang manajer kan dalam lima tahun akan datang. Kalau selevel manager ini tak memahami teknologi informasi tentu tidak mungkin bisa berkiprah sebagai seorang manajer. Sesuai eranya,” papar Deden. 
 Yang sudah direspons, akunya lagi, Unsil siapkan melalui beberapa muatan kurikulum, baik dengan matakuliah sistem informasi manajemen, kemudian kalau di Fakultas Ekonomi pada sistem informasi akuntansi, pemasran, produksi. Semua harus berbasis CBIS (computer basic information system).

Ia contohkan juga, tren pemasaran produk sekarang tak lagi dilaksanakan konvensional. Profesi akuntan pun terancam meski itu bisa di 10 tahun mendatang. Peluang kemudahan merubah kurikulum, sitirnya, bisa diraih terlebih dengan penerapan pola SKS.

Perubahan itu sangat mungkin berlangsung di perjalanan (di tahun berjalan) dengan sistem SKS ini.
“Misal kita memasukan satu matakulaih baru yang konstruksi kurikulumnya sama, tapi muatan matakuliahnya baru. Itu yang mungkin dilakukan,” ungkapnya.
Ada lagi yang cukup jadi argumen kampus tanggap perubahan. “Tanggap tehadap perubahan-perubahan karena selaras visi untuk menghasilkan lulusan yang tangguh, memiliki wawasan kebangsaan, berjiwa wirausaha. Semua prodi dapat materi kewirausahaan. Dan, tentu pendekatan untuk kewirausahaan pun tidak lagi konvensional.
---
Oleh: Agus Alamsyah