Halo “Cyber City”, Halo “Smart City”

 Achmad Taufik
Sempat cukup menggema. Konsep pacu layanan mengintegrasikan sistem, memanfaatkan jaringan telekomunikasi yang dimasyarakatkan dengan sebutan cyber city. Belum kunjung terdengar aplikasinya booming. Kemudian, muncul gagasan hampir serupa dengan istilah, smart city.

Sensasi smart city juga belum banyak wujudnya. Kini, sayup-sayup peluncuran program serupa menyembul dengan istilah baru, broad band city. Sekilas dengan program canangkan itu, gagasan menghadirkan digitalisasi pelayanan berbasis internet meluas, mudah dijangkau masyarakat.

Mudah diakses dengan pembangunan/penempatan infrastruktur jaringannya ke tengah-tengah masyarakat. Pada orientasi lainnya, mendorong kemudahan bagi masyarakat mengakses informasi pemerintah hingga komunikasi dua arah dalam aktivitas keseharian dan kebutuhannya.

Yang tertangkap berikutnya, jadi konsep pemerintah terbangunnya media penyampai kegiatan jajaran dinas/lembaga untuk diinformasikan ke tengah-tengah masyarakat. Untuk memenuhi sistem akases online ini, tentu ditunjang pengadaan sarana prasarananya, sampai penyiapan SDM-nya.

Penghadiran laju teknologi IT, kabarnya, jika di Kota Bandung, terus menunjukkan hasil, gagasan digitalisasi informasi-komunikasi di Kota Tasikmalaya, masih jadi penantian debutnya. Sudah dua generasi pemimpin daerah penuh obsesi atas kota pintar terdukung infrastruktur IT ini, dicanangkan.

Dalam satu perbincangan dengan Kabid Kominfo Dishub Kominfo Kota Tasikmalaya, Achmad Taopik, terdapat perbedaan antara konsep cyber city dengan smart city. Yang tersimpulkan, jika cyber city orientasinya terhadap ikhtiar menempatkan jaringan sistem digital yang lebih dekat, terbangun di banyak ruang publik, di kantor-kantor pemerintah.

Adapun smart city berkonsep sudah ke pemberdayaan potensi-potensi daerah memanfaatkan sistem digital, hingga bisa mengontribusi pada peningkatan kualitas layanan daerah, kualitas hidup masyarakat, promosi daerah untuk mendatangkan investasi.

Langkah-langkah sejalan gagasan program, aku Taopik, tentunya sudah ada. Sudah dilakukan. Namun, di soal optimal- tidaknya program ini, ia tak mengelak dengan tantangan yang masih menyerta. Jelasnya apa? Menurut pejabat ini, dimulai soal pemahaman urgensi program yang belum meluas. Seterusnya, di soal masih minimnya sokongan anggaran.

Dengan tantangan itu, ia menyiratkan harapan besar sampai kini masih jadi penantian dan perjuangan. Pengakuannya pula, tentu akan terus berusaha meyakinkan tentang manfaat dan peluangnya, seperti dalam menghadirkan konsep e-goverment. red