Catatan Gantian Petinggi Negara Datangi Tasik


Belum kembali kini masyarakat Tasik memperoleh kabar, akan kedatangan tamu petinggi negara bersambang. Setelah pastinya belum lama ini, dalam waktu berdekatan, rentetan pejabat-pejabat penting hingga presiden mengunjungi Tasikmalaya.

Catatan redaksi Tasikplus, penyelenggara daerah Tasikmalaya, sempat dibuat fokus, mengondisikan sambutan setertib mungkin. Menerima bergiliran kunjungan elite negara. Catatan lainnya, kedatangan itu lebih banyak mengisi memontum keagamaan.

Rangkaian kunjungan sekitar sebulan lewat itu, berdekatan pada bulan Juni hingga memasuki Juli ini. Halnya diawali kunjungan kerja Pangdam II/Siliwangi, Mayjen TNI.M Herindra pada 6 Juni. Malah, menyoal kedatangan petinggi ini sebelumnya ada Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, sekitar November 2016 yang menghadiri acara Istigosah di Tasik.

Beberapa hari setelah kedatangan Pangdam Siliwangi, berkunjung ke Tasikmalaya, orang nomor satu di republik ini sekarang, Presiden Jokowi. Berikutnya, Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo pada, Rabu (21 Juni). Kemudian Menteri Sosial yang juga Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, pada 7-8 Juli ini.

Seperti biasa dalam riuh kebebasan berpendapat di NKRI saat ini, dalam kebebasan berujar rakyat di zaman reformasi, makin akrab dengan pihak yang berspekulasi di satu kondisi. Tentunya dengan kunjungan petinggi negara apalagi ini bergantian, selain tentu spekulasi dalam ungkapan sekadar berisi harapan. Ramainya bertandang, diharap membawa berkah bagi daerah.

Di soal asumsi positif misal, hingga ada tokoh yang menyebutkan berkah kedatangan presiden tak ayal memastikan operasional Pangkalan Udara Wiriadinata yang resmi membuka penerbangan komersial lebih cepat. Presiden datang, bandara dalam kondisi sudah beroperasi. Orang Tasik pun senang.

Secatatan persepsi lainnya, kedatangan ramai-rama gantian VVIP negara tak bakal lepas dengan orientasi/kepentingan strategis elite. Lalu, kepentingan politis pejabat politik, dan pencitraan. Hingga bisa juga, itu opsi manuver agar diyakini, penguasa dekat dengan rakyatnya.

Apalagi, akhir-akhir ini iklim stabilitas negara dibuat seperti tengah penuh drama imbas dinamika yang ada di masyarakat juga. Tak kalah kegaduhan diawali buntut nyeleneh celetukan Gubernur Basuki Tjahja Purnama (Ahok), kala itu, jelang Pilkada DKI yang mengutip Surat Al-Maidah 52 Alquran, lalu dirasa kalangan umat Islam mengusik.

Situasinya disusul aksi mereka yang peduli atau merasa perlu bersuara atas ucapan Ahok dalam protes-protes sampai turun berujuk rasa jutaan umat di Jakarta. Lainnya drama, terinterpresentasikan kelompok fundamentalis muslim, dalam sikap antipenguasa. Atmosfer ISIS diisukan menggejala. Lantas, rakyat seolah tengah terkotak dalam dukung dan tidak mendukung penguasa.

Sekaitan kunjungan sejumlah elite petinggi lagi ke Tasik, seterusnya dalam persepsi diharap, membawa makna positif bagi daerah. Itu setelah Tasikmalaya tercitrakan baik dan kondusif, sehingga layak kedatangan ramai investor, selain kebijakan menggelontor pemerintah pusat untuk mendongkrak infrastruktur dan ekonomi daerah.

Bawa manfaat

Di satu kesempatan, Wakil Rektor Unsil Prof Deden Mulyana berujar, dirinya meyakini kedatangan bergiliran petinggi negara pasti dengan kepentingan yang diembannya. Dalam persepsi-persepsi ekonom ini tak bicara negatif thingking. Kecuali kunjungan pejabat optimistisnya akan membawa manfaat.

“Harapannya, kunjungan petinggi akan membawa manfaat lebih, makna lebih. Menambah kepercayaan tentang Tasik yang kondusif, dan warga Tasik dapat memetik berkah kunjungan. Halnya, setahu saya saja operasional Bandara Wiriadinata komersil, belum jadi agenda. Kemudian sekaitan ada kunjungan presiden, ya beroperasilah bandara,” paparnya.

Bukan sekadar safari

Pemerhati masalah sosial Tasik, Nanang Nurjamil, melihat, datangnya para petinggi negara ini bukan sekadar safari. Melainkan memiliki nilai urgensi tersendiri. Pandangan ia halnya, itu dalam kerangka menjaga stabilitas nasional, keutuhan NKRI, sejalan stigma yang dianggap ada ancaman dengan disintegrasi atau ancaman perpecahan bagi persatuan belakangan ini.

Kenapa ke Tasikmalaya? Jawabnya, karena daerah ini menjadi salah satu barometer bagi para petinggi negara dalam menyikapi situasi dan kondisi sosial-politik secara nasional. Di Tasik ada fakta sejarah tentang pergerakan massa yang mengimbas jauh ke keadaan sosekpolbud (sosial, ekonomi, politik dan budaya), begitu besar. Kemudian berimbas pada daerah-daerah lain, dengan isu dan perhatian yang besar.

Saran Nanang, sepatutnya kedatangan penguasa dari Jakarta terus bisa dimanfaatkan secara baik oleh pemkot. Karena jika digali, kota ini sebetulnya memiliki banyak potensi yang harus digeliatkan, mulai dari potensi sejarah, ekonomi, politik, geografis, sumber daya alam dan sumber daya manusia.

“Seandainya potensi ini disikapi secara smart (jeli) oleh pemerintah, kedatangan beberapa pejabat negara kemarin ialah momentum untuk mengakselerasi semua potensi termasuk kegiatan pembangunan di Kota maupun Kab.Tasikmalaya,” suffortnya.

Tak melihat benang merah kuat

Dalam obrolan terpisah, akademisi yang juga pemerhati masalah politik, Asep M Tamam, ia punya pandangan bahwa keislaman di Tasik ini tarik. Dikenal umum juga sebagai konta santri. Tentunya banyak ulama dan pesantren di Tasik. Di sini, NU berkembang, Muhammadiyah berkembang, Persis demikian juga.

Kemudian umat Islam dengan sebutan bergaris fundamentalnya pun ada. Seperti ada ormas Taliban, HT (Hizbutahrir), dll. Kelompok yang selama ini banyak terwacanakan pusat, di Tasik ada. Lebih khas dari daerah lain di jabar. Karena itu, ia membenarkan dengan orientasi/kepentingan strategis di balik kunjungan petinggi.

“Namun, saya melihat perspektifnya dalam persepsi positif. Itu kunjungan yang baik bagi Tasik. Pada umumnya mereka datang bertemu ulama. Ada kapolda bertemu ulama, pangdam juga sama. Presiden datang ke pesantren. Karenanya, tentu kita patut bersyukur dengan kedatangan rombongan petinggi negara ini,” tandas Asep.

Selain itu, kunjungannya dalam momentum keagamaan. Mendatangi simpul-simpul keagamaan. “Karenanya, saya pun tak melihat benang merah kuat, kunjungan itu ada kaitan dengan keberadaan umat fundamentalis di Tasik, atau kaitan satu penelitian bahwa akar radikalisme di Priangan Timur itu ada di Tasik,” ucapnya sembari sempat menyebutkan sosok peneliti yang membahas radikalisme di Priangan Timur itu.

Kunjungan pejabat kerap dispekulasikan berisi pencitraan? Jawab Asep, “Dalam konteks presiden, keliling Jawa pun ia datang ke pesantren. Yang lainnya datang bertemu ulama. Karena itu, saya tetap melihatnya, ini kaitan Tasik, kota santri, banyak ulama. Banyak mazdhab. Memang Tasik ramai dengan pro-aksi 212 misal. Namun saya melihat kunjungan pejabat tak ada benang merahnya dengan itu. Termasuk kemudian dengan penangkapan pelaku teror,” bebernya.

Di pengujung obrolannya, Asep sependapat, sangat mungkin kunjungan tak lepas dengan laporan intelejen negara. Tapi seterusnya, ulas Asep, harus bersyukur dengan kedatangan petinggi negara ini, citra Tasik menguat. Isu Tasik menjadi lebih positif.

“Apalagi hampir tidak ada pemberitaan minor/miring tentang kunjungan elite ini. Bahkan di medsos pun hampir tak ada diskusi negatif dengan kunjungan mereka ke Tasik,” tutupnya.

Wali kota pun hanya berpersepsi

Terpisah, saat ditanya, Wali Kota Tasikmalaya, H Budi Budiman, pun tak mengemukakan apa hal mendesak yang kemudian ke Tasik berdatangan sejumlah petinggi. Kecuali ia hanya senada, memungkinkan pejabat negara tentu memiliki maksud tersendiri datang ka satu daerah.

Selebihnya, H Budi menandaskan, kedatangan para petinggi negara belum lama berselang, jelas menjadi berkah tersendiri bagi Kota Tasik. “Terkait niat dan hal apa yang menarik dari Kota Tasik, sampai-sampai pejabat dari Jakarta silih berganti mengunjunginya, mungkin lantaran soal ketertarikan saja,” timpalnya kepada kru Tasikplus.

Asumsi lainnya, pengakuan wali kota, kedatangan petinggi negara ke Tasik, bernilai sangat positif. “Menurut saya itu bagus. Dengan begitu, Kota Tasik semakin dikenal. Mudah-mudahan bisa membawa dampak positif bagi Kota Tasik,” pungkasnya.

Oleh: Piter & Hapid