GUCiTUM5GSW7BSYoTUCpTSYp
Berita
Update

Mengering, Sejumlah Irigasi dan Situ di Wilayah Sungai Ciwulan Cilaki

Ukuran huruf
Print 0
Di antara lainnya yang sudah mengering, penggarap lahan sebidang sawah ini berusaha merawat lahannya penuh harap tanaman padi bisa terpetik.

Tasikplus.com-Sekitar lima bulan ini, musim kemarau melanda berbagai daerah. Mengakibatkan lahan-lahan garap pertanian kekeringan, menyertai kondisi aliran-aliran irigasi kerontang atau menyusut. 

Sejumlah aliran daerah irigasi (DI) dalam wilayah kerja bina UPTD Ciwulan Cilaki, Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jabar, berdasar laporan umumnya sudah mengering. Pada sebagian kecil DI saja yang masih menyisakan sedikit aliran. 

“Dari enam daerah irigasi dalam wilayah bina kita, tampaknya tinggal dua DI yang masih mengalirkan air. Itupun dalam volume atau debit yang paling seperempatnya dari debit normal”, ujar Kepala UPTD Wilayah Sungai (WS) Ciwulan Cilaki, Muhammad Taufik ST MT, saat ditanya. 

Objek garap WS ini juga untuk beberapa situ dan embung. Kondisi debit airnya tak berbeda. Sudah tak lagi mengalir pada umumnya ke outlet-outlet salurnya. Bahkan di hamparan basah Situ Gede, Kota Tasikmalaya, warga sudah menjadikan area turun hingga ke tengahnya, setelah mengering. 

Beberapa bulan ini musim kemarau. Ada yang berlangsung mulai bulan April selain Mei. Puncaknya berdasar prakiraan BMKG memasuki September 2026. Di sebagian DI pada WS Ciwulan Cilaki yang masih menyisakan aliran, opsi warga mengalirkan air dengan pola digilir 

Namun, pada keterangan lain Taufik, persepsi dirinya untuk musim kemarau saat ini memasuki musim tanam ketiga (MT 3) 2026. Lazimnya di musim tanam ini penggarap lahan tak bertanam padi tapi memilih jenis palawija. Sehingga tak banyak memerlukan air. 

“Di periode tiga bulan memasuki Oktober adalah MT 3. Sudah ada Perda Pemprov Jabar yang menetapkan tentang musim tanam ini. Sehingga ekspektasi kita pun berkenaan menyusutnya aliran-aliran air tak begitu banyak mengorbankan usaha tanam petani. Terutama saat opsi tanam enggak ke padi tapi ke jenis palawija. Lainnya, sudah melewati masa panen“, ungkap Taufik. 

Di areal-areal tanam yang dalam setahun biasa ditanami tiga kali, lazimnya memasuki MT 3 petani bertanam palawija. Namun Taufik tak mengelak masih adanya di antara mereka yang bercocok tanam padi. Masih diperlukan sosialisasi perda tentang musim tanam ini yang perlu lebih luas. 

Enam DI dalam wilayah sungai UPTD Ciwulan Cilaki meliputi, DI Cipalebuh, Biuk , Cibanjaran, Merejan, Ciramajaya, dan DI Padawaras. Aliran DI ini lintas wilayah kabupaten/kota di Priangan Timur, sejak Kab.Garut, melewati Tasikmalaya, hingga Kab.Pangandaran. gus

Mengering, Sejumlah Irigasi dan Situ di Wilayah Sungai Ciwulan Cilaki
Periksa Juga
Next Post

0Komentar



Tautan berhasil disalin