Direktur RSI Hj Siti Muniroh Kota Tasikmalaya, Beri Pesan untuk Puasa Tetap Bugar dan Sehat

dr Rahma Nurmayanti SpPD
Kembali umat Islam sampai pada Ramadan 1444 H/2023 M. Sebulan penuh berpuasa. Sejak beberapa hari sebelumnya, gema Ramadan sudah terasa. Penuh sambut sebagian masuk bulan penuh ampunan. Namun, ada juga di antaranya yang meraba-raba penyakit diderita.

Direktur Rumah Sakit Islam (RSI) Hj Siti Muniroh Kota Tasikmalaya, dr Rahma Nurmayanti SpPD MSi, memberi tips berpuasa dengan kebugaran tubuh serta kesehatan terjaga. Ia awali pesannya dengan soal perhatikan kebutuhan air minum tubuh.

Kecukupan air, minum, katanya, mesti disamakan dengan suasana sebelum berpuasa. Minimal dua liter sehari. Cara minumnya dibagi-bagi, dibuat pas. Sebelum sahur, pas sahur, saat buka, setelah berbuka. Jadi bukan (2 liter) langsung sekali banyak begitu. “Perhatikan soal kecukupan air ini”, pesannya.

Terus, makanan yang seimbang. Tetap dengan makanan bergizi, ada kalori, proteinnya, seperti biasa. Cuma di sini yang membedakan soal waktunya saja. Ada olahraga juga tapi jangan sampai berlebihan, intensitasnya bisa juga dikurangi. Disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Tak kalah sorotannya bagi mereka yang punya penyakit penyerta. Jika sebelumnya dalam sehari itu satu jam, dikurangi menjadi 30 menit. Jangan diporsir, sebab kekurangan cairan atau dehidrasi akan menyebabkan badan cepat lemas.

“Jadi, olahraga tetap dilakukan untuk menjaga kebugaran, di waktu sore misal. Seperti yang saya lakukan, ya saat malam, setelah salat Tarawih. Olahraga sebentar, cukup lah,” jelas dokter spesialis dalam itu.

Apakah ada risiko kalau itu tidak dilakukan? “Ada. Bisa banyak. Terutama ya itu terkait dehidrasi, penyakit komorbid yang diderita,” jawabnya.

Misalkan orang yang punya (sakit) lambung, itu dihidrasi makanan saat berbuka puasa atau sahur dengan yang pedas-pedas, yang mengandung asem-asem.

“Konsumsi buah-buahan dipilih. Jangan dengan jeruk, apel, anggur, salak. Itu kan enggak boleh. Meningkatkan asam lambung. Jadi kalau mau berbuka, dengan yang segar-segar seperti, pepaya, semangka. Itu kan banyak air, vitamin C-nya dapet, air dapet”, ujarnya.

Selanjutnya, pesan ia, makanan gorengan dikurangi. Jangan terlalu banyak. Apalagi yang punya lambung, yang punya kolesterol. “Memang enak sih goreng-gorengan ya saat berbuka puasa. Tapi dengan goreng-gorengan ini jangankan lagi puasa ya, di luar puasa ini makanan mengandung banyak minyaknya, kurang bagus,” paparnya.

Enggak bisa disamaratakan
Ada orang mempersepsikan puasa picu kambuh sakit maag, tapi ada juga yang menganggap sebagai terapi. Tanggapannya? “Kalau menyoal itu, baiknya dilihat kondisinya dulu dong. Enggak bisa disamaratakan satu orang dengan orang lainnya, satu pasien dengan pasien lainnya, misal untuk penderita maag ini”, ucapnya.

Kalau orang yang punya sakit lambung dan lambungnya kronis, memang sebaiknya jangan puasa dulu. Apalagi yang sudah pendarahan. Tapi kalau lambung berderajat ringan, sedang, dengan berpuasa itu malah bagus. Sebab puasa akan melatih otot-otot lambungnya, melatih siklus pengeluaran asam lambungnya.

Kemudian, orang dengan penyakit jantung yang berat, juga sebaiknya jangan puasa dulu, apalagi dengan usia lanjut. Nah, ini berbeda dengan orang yang berpenyakit gula, justru malah bagus berpuasa. Dapat mengatur ritme pengeluaran insulin tubuhnya akan lebih baik.

“Jadi, di sini dengan puasa itu ibarat detoks pada tubuh kita. Detoksifikasi kotoran-kotoran yng ada di tubuh. Ini sesuai perintah Allah, dalam sunah juga kan dijelaskan, untuk membersihkan racun-racun dalam tubuh”, pungkasnya.

Detoksifikasi secara harfiah merupakan cara tubuh memperoleh gizi yang tepat dan memberikan tubuh kesempatan melakukan pembuangan zat-zat beracun. gus
 

0 Komentar