Produk Industri Syariah masih Belum Meroket Berkejut


Kepala OJK Tasikmalaya, Asep Ruswandi

Kinerja lembaga pembiayaan, industri keuangan, seperti biasanya menyertai operasionalnya membukukan pertumbuhan aset dari tahun ke tahun. Di dunia perbankan yang dimulai kelompok konvensional, kemudian BPR (Bank Perkredita Rakyat), dan jenis syariah, kondisi serupa dialami dalam operasional wilayah kerja OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Tasikmalaya.

Sama-sama meraih pertumbuhan. Tapi, menangkap data dalam kegiatan ekspos jajaran OJK Tasikmalaya di acara “Media Gathering” dengan awak media massa Tasikmalaya, cukup mengemuka kinerja industri syariah dalam capaian angka aset yang masih tertinggal jauh dibanding capaian di kelompok layanan bank dan BPR umum konvensional. Meski dengan capaian prosentasenya yang tak jauh juga.

Seperti dikemukakan Kepala OJK Tasikmalaya, Asep Ruswandi, posisi aset bank umum konvensional pada Mei 2018 dibanding operasional sama di tahun 2017, meningkat Rp 1,697 miliar, atau meningkat sebesar 6,95% (yoy). Pertumbuhan dipengaruhi peningakatan penyaluran kredit dengan dominasi kredit modal kerja.

Aset BPR konvensional dalam rentang waktu yang sama meningkat Rp 87 miliar, atau dalam peningkatan prosentase 9,33%. Penyaluran kreditnya sekitar Rp 66 miliar. Sedangkan posisi yang dialami bank umum syariah, hanya membukukan pertumbuhan Rp 48 miliar, dengan prosentase pertumbuhan 2,39%. Pun dengan BPR syariah yang menunjukkan pertumbuhan aset senilai Rp 8 miliar. Terus, disalurkan dalam layanan pembiayaan Rp 4 miliar.

Patut jadi perhatian

Sehubungan kondisi itu, Asep menegaskan, kinerja layanan syariah ini mesti jadi perhatian segenap komponen masyarakat. Patut, masyarakat kini memercayai layanan industri syariah. Sebab, sudah jelas ada penjaminnya, pengawasnya.

“Bagi umat Islam jelas, pola ini dianggap paling sesuai syar’i,” yakinnya.
Menurut Asep lagi, ini dalam kaitan kegiatan bertransaksi aman. Aman di sini sesuai keyakinan. Bukan saja sekadar urusan dunia tapi urusan //ukhrowi//. Bersyariah itu konsep dasarnya, tidak ditetapkan dari awal tapi tergantung hasil. Jadi, ini benar-benar harus dijiwai betul. Kalau masyarakat hanya membanding-bandingkan, mana yang lebih besar, mana yang lebih, itu akan menjadi sulit. Kecuali dbandingkan dengan syariah lagi.

“Kita semua harus bergandeng tangan, bersinergi untuk senantiasa terus berupaya memberi pemahaman, memberi keyakinan pentingnya menjalankan pola industri syariah. Penting sinergi, OJK, BI, pemda, perguruan tinggi, pemuka agam hingga MUI, dll. Mesti semuanya. Enggak bisa saling pojokkan,” jelasnya.

Selain itu sorotan Asep, aksi kalangan pelaksana dari industrinya. ”Kita enggak bisa jalan sendiri. Industrinya harus bicara juga. Sehingga masyarakat paham, tidak di awang-awang,” ucapnya seraya menyebutkan, untuk pemahaman di soal konsep syariah pun sejatinya dimulai dengan sosialiasai sejak kalangan anak-anak di sekolah, di madrasah-madrasah, untuk diyakinkan sebagai sistem paling benar.

Yang diharapkan Asep berikutnya, pelaku sektor industri mulai berekonomi syaraih. Jadi, bukan hanya saat dia berhubungan dengan bank saja. Tapi bagaimana misal, ia seorang pengusaha hotel, bengkel, menerapkan eknomi syariah. Jangan terus menerapkan pola konvesional.

Gerbongnya dari industri

Apa yang jadi motivasi OJK gaungkan syariah ini? Karena, beber Asep, kemajuan suatu negara itu gerbongnya dari industri. Kalau ini industrinya enggak maju, susah jadinya. Susah narik pertumbuhan ekonomi. Semua lini harus jalan. Harus terpacu di aspek transmisi-transmisinya. Industri ini akan menarik dana dari masyarakat yang ada, masuk ke industri, dan industri akan melempar lagi kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Sehingga roda ekonominya jalan./Kinerja lembaga pembiayaan, industri keuangan, seperti biasanya menyertai operasionalnya membukukan pertumbuhan aset dari tahun ke tahun. Di dunia perbankan yang dimulai kelompok konvensional, kemudian BPR (Bank Perkredita Rakyat), dan jenis syariah, kondisi serupa dialami dalam operasional wilayah kerja OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Tasikmalaya.

Sama-sama meraih pertumbuhan. Tapi, menangkap data dalam kegiatan ekspos jajaran OJK Tasikmalaya di acara “Media Gathering” dengan awak media massa Tasikmalaya, cukup mengemuka kinerja industri syariah dalam capaian angka aset yang masih tertinggal jauh dibanding capaian di kelompok layanan bank dan BPR umum konvensional. Meski dengan capaian prosentasenya yang tak jauh juga.

Seperti dikemukakan Kepala OJK Tasikmalaya, Asep Ruswandi, posisi aset bank umum konvensional pada Mei 2018 dibanding operasional sama di tahun 2017, meningkat Rp 1,697 miliar, atau meningkat sebesar 6,95% (yoy). Pertumbuhan dipengaruhi peningakatan penyaluran kredit dengan dominasi kredit modal kerja.

Aset BPR konvensional dalam rentang waktu yang sama meningkat Rp 87 miliar, atau dalam peningkatan prosentase 9,33%. Penyaluran kreditnya sekitar Rp 66 miliar. Sedangkan posisi yang dialami bank umum syariah, hanya membukukan pertumbuhan Rp 48 miliar, dengan prosentase pertumbuhan 2,39%. Pun dengan BPR syariah yang menunjukkan pertumbuhan aset senilai Rp 8 miliar. Terus, disalurkan dalam layanan pembiayaan Rp 4 miliar.

Patut jadi perhatian

Sehubungan kondisi itu, Asep menegaskan, kinerja layanan syariah ini mesti jadi perhatian segenap komponen masyarakat. Patut, masyarakat kini memercayai layanan industri syariah. Sebab, sudah jelas ada penjaminnya, pengawasnya. “Bagi umat Islam jelas, pola ini dianggap paling sesuai syar’i,” yakinnya.

Menurut Asep lagi, ini dalam kaitan kegiatan bertransaksi aman. Aman di sini sesuai keyakinan. Bukan saja sekadar urusan dunia tapi urusan ukhrowi. Bersyariah itu konsep dasarnya, tidak ditetapkan dari awal tapi tergantung hasil. Jadi, ini benar-benar harus dijiwai betul. Kalau masyarakat hanya membanding-bandingkan, mana yang lebih besar, mana yang lebih, itu akan menjadi sulit. Kecuali dbandingkan dengan syariah lagi.

“Kita semua harus bergandeng tangan, bersinergi untuk senantiasa terus berupaya memberi pemahaman, memberi keyakinan pentingnya menjalankan pola industri syariah. Penting sinergi, OJK, BI, pemda, perguruan tinggi, pemuka agam hingga MUI, dll. Mesti semuanya. Enggak bisa saling pojokkan,” jelasnya.

Selain itu sorotan Asep, aksi kalangan pelaksana dari industrinya. ”Kita enggak bisa jalan sendiri. Industrinya harus bicara juga. Sehingga masyarakat paham, tidak di awang-awang,” ucapnya seraya menyebutkan, untuk pemahaman di soal konsep syariah pun sejatinya dimulai dengan sosialiasai sejak kalangan anak-anak di sekolah, di madrasah-madrasah, untuk diyakinkan sebagai sistem paling benar.

Yang diharapkan Asep berikutnya, pelaku sektor industri mulai berekonomi syaraih. Jadi, bukan hanya saat dia berhubungan dengan bank saja. Tapi bagaimana misal, ia seorang pengusaha hotel, bengkel, menerapkan eknomi syariah. Jangan terus menerapkan pola konvesional.

Gerbongnya dari industri

Apa yang jadi motivasi OJK gaungkan syariah ini? Karena, beber Asep, kemajuan suatu negara itu gerbongnya dari industri. Kalau ini industrinya enggak maju, susah jadinya. Susah narik pertumbuhan ekonomi. Semua lini harus jalan. Harus terpacu di aspek transmisi-transmisinya. Industri ini akan menarik dana dari masyarakat yang ada, masuk ke industri, dan industri akan melempar lagi kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Sehingga roda ekonominya jalan. 
-----
Oleh: Agus Alamsyah