Idealnya Penyesuaian Tarif Tiap Tiga Tahun

Hamzah Diningrat

Sosial
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Uang-uang receh yang ditarik, dikumpulkan, serta disetor petugas pemungutnya, dalam pengawalan petugas di unit pelaksana teknis dinas (UPTD)nya dari ratusan titik tarik, jadi berjumlah besar juga dan mengaliri kas daerah asal retribusi parkir ini.

Sejak lama, setoran parkir memberi sumbangan tersendiri terhadap PAD (pendapatan asli daerah) APBD Kota Tasikmalaya. Malah dengan sumbangan yang bernilai terus naik setiap tahunnya.

Kalau setahun lalu, dorongan legislatif membuat target pemasukan parkir pemkot di kisaran Rp 1 miliar, memasuki tahun 2017 ini petugas di unit kerja pengelolanya kembali didorong untuk bisa menarik uang parkir dengan kenaikan menjadi Rp 1,4 miliar. Optimisme untuk target itu bisa teraih, kembali memasuki 2018 mereka ditarget lagi bisa menaikkan setorannya dengan kisaran sebesar 50%, setara tambahan itu kurang lebih Rp 700 juta, atau menjadi Rp 2,1  miliar.

Yang agak tak banyak terdengar dorongan menaikkan kontribusi parkir diimbangi keputusan menaikan tarif pungutnya. Beda dengan pengelolaan parkir oleh swasta, atau warga biasa yang memanfaatkannya.

Membahas seputar pengelolaan parkir ini, Tasikplus, beberapa hari lalu bertemu Kepala UPTD Parkir Dishubkominfo Kota Tasikmalaya, Hamzah Diningrat. Mengemuka beberapa hal yang ditanyakan. Berikut di antara petikan obrolan dengan pejabat yang punya hobi otomotif ini:

Penarikan retribusi parkir jadi sumber penghasilan daerah sejak lama. Kabarnya sudah cukup gede pula setiap tahunnya tertarik, seperti tahun ini target masuknya senilai?

Target parkir untuk PAD tahun ini senilai Rp 1,4 miliar.

Dalam perkembangan hingga mendekati pengujung tahun capaiannya?

Alhamdulillah targetnya sudah terpenuhi.

Kabarnya, setiap tahun target pemasukan retribusi ini dinaikan dalam pembahasan anggaran bersama di legislatif, sejak kapan itu dan bagaimana dengan capaiannya?

Target naik untuk PAD parkir sejak 2011. Alhamdulillah setiap tahunnya terus meningkat. Target bahkan bisa dua kali dalam setahun, di saat penetapan APBD murni kemudian perubahan anggaran.

Ditarget tiap tahun naik malah hingga dua kali penetapan, tapi raanya jarang terdengar menaikkan jasa ini kepada pengguna jasa parkirnya?

Betul memang, di tengah tuntutan kenaikan target PAD parkir, sementara tarif parkirnya hampir tujuh tahun, tepatnya sejak 2011 belum ada penyesuaian lagi.

Lama tak ada keputusan menaikkan jasa parkir, pendapat Anda idealnya setiap periode kapan ada penyesuaian?

Idealnya, penyesuaian tarif itu dilakukan tiap tiga tahun sekali.

Terus, kalau tarif yang berlaku saat ini setelah sejak hampir tujuh tahun tak naik?

Untuk tarif yang berlaku saat ini, kendaraan roda dua Rp 1.000, dan untuk roda empat Rp 2.000.

Jika akhirnya ada pilihan menaikkan tarif parkir, persepsinya?

Kalau dilihat dengan perkembangan ekonomi warga saat ini, (jika dinaikkan) rasa-rasanya tidak akan membebani pengguna jasa parkir.

Jajaran Anda untuk tahun depan kabarnya sudah dikenai target naik pemasukan parkir ini?

Target pemasukan parkir tahun depan kembali naik, dengan perhitungan potensi kenaikan sebesar Rp 700 Juta, atau naik sekitar 50%, menjadi Rp 2,1 miliar dari jumlah sebelumnya, dengan putusan sementara ini tidak boleh ada kenaikan tarif.

Lalu upaya apa yang dilakukan untuk meraihnya selama ini?

Terpaksa menaikan setoran dari petugas parkir. Jumlah kenaikan setorannya variatif, dari Rp 50 ribu sampai yang terbesar Rp 250 ribu per bulan. Untuk mengambil keputusan ini tidak serta merta begitu saja, sebelumnya kita sudah lakukan uji petik di lokasi parkir selama tiga jam, dan hasil proses uji petik mendapati potensi kuat dinaikan, setorannya diminta dinaikan pada juru parkir dengan tidak terlalu memberatkan mereka.

Hanya dengan cara itu, tak ada lagi, atau barangkali ada konsep baru?

Tentu ada. Rencananya tahun depan, di jalur jalan HZ Mustofa akan dipasang alat, berupa mesin penghitung parkir, sebanyak dua unit. Adanya alat ini, penerimaan parkir akan lebih optimal.

Dipasangi alat, bagaimana dengan keberadaan juru parkirnya?

Itu  yang menjadi bahan pemikirannya, pasalnya kalau sampai alat ini tahun depan dipasang, kemungkinan akan ada petugas yang dirumahkan, atau dipindah ke lahan parkir lain. Dengan penempatan alat ini cukup dikelola oleh empat orang petugas, semantara sepanjang jalur tersebut ada 23 petugas parkir. Mudah-mudahan saja ada solusi terbaik.

Melihat potensi asal pemasukan ini, apakah sempat terwacana pemerintah menyediakan lahan parkir khusus?

Rencana seperti itu sempat dibahas. Pak wali kota pernah menyampaikan soal ini. Beliau berkeinginan gedung eks setda kabupaten jadi kantong parkir. Ruas jalan HZ Mustofa dikosongkan. Jadi, warga cukup berjalan kaki untuk menuju pusat pembelanjaan. Rencana ini tentu tidak mudah untuk diwujudkan. Ini mungkin rencana jangka panjang.

Sejalan perkembangan kota dengan konsentrasi tempat keramaian, adakah diikuti penambahan titik-titik kantong parkir baru?

Tentu ada, cukup banyak juga. Lahan baru ini, yang semula tidak ditarik retribusinya, kita optimalkan dengan menyimpan petugas parkir, seperti di depan BRI Cibeureum dan beberapa minimarket. Selain itu juga, ada aktivitas parkir malam. (pid)


Suka dengan artikel ini?, silahkan begikan dan tinggalkan komentar terbaik anda:
Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account