Saya dalam Posisi Ditawari

KH Asep Maoshul Affandi./Pit

Politik
Peralatan
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jabar, kurang dari setahun lagi. Hajatan lima tahunan ini, persisnya akan dihelat Juni 2018. Seiring itu, dinamika politik makin bergulir kencang.

Masing-masing partai terus membangun kekuatan guna menyikapi dan mengamati peta politik terkini. Dimulai membangun koalisi hingga memilah figur terbaik yang dianggap layak dan berpeluang menang di pilgub nanti.

Pengamatan Tasikplus, hingga detik ini, sederet sosok yang disebut-sebut bakal berlaga di pilgub, sudah bermunculan. Salah satunya, KH Asep Maoshul Affandi, anggota DPRI RI dari Fraksi PPP. Belakangan, popularitas putra dari alm. KH Choer Affandi, ini terus melambung seiring gadang-gadang sebagai salah satu kandidat yang diperhitungkan. Ditambah, gambar dirinya juga akhir-akhir ini mudah dijumpai, baik melalui stiker, pamplet, baliho sampai reklame/bilboard.

“Saya dalam posisi ditawari dan diminta. Pertama, yang menawari saya itu Ridwan Kamil. Secara langsung, ia meminta saya untuk mendampinginya. Tak lama kemudian, Ketua umum DPP PPP, Romahurmuziy juga menawari saya untuk dicalonkan di pilgub. Kalau saya, ya gayung bersambut,” kata Asep, diwawancarai secara khusus oleh  asikplus di kediamannya, kompleks ponpes Miftahul-Huda, Kec. Manonjaya, Kab. Tasikmalaya, belum lama ini.

Atas sinyal tersebut, lanjut Asep, dirinya optimis akan jadi ikut berlaga di perhelatan pilgub. Tak hanya optimistis menjadi calon, dirinya juga optimis akan memenangkan pertarungan. Ada beberapa hal yang membuatnya begitu yakin antara lain, mendapat dukungan penuh dari semua jaringan pesantrennya yang ada di Jabar, plus track recordnya di kancah perpolitikan.

Di Pileg 2009 dirinya menang telak di dapil XI (Kota Tasik, Kab. Tasik dan Kab. Garut) dengan raihan 103.249 suara. Angka yang fantastis dan masuk tiga besar peraihan suara terbanyak se-Indonesia di internal PPP. Pada Pileg 2014, ia mencoba menjajal dapil lain (Kab. Kuningan, Kab. Ciamis, Kota Banjar dan Kab. Pangandaran). Hasilnya pun positif. Yang awalnya PPP di sana zero, setelah Asep masuk, PPP mendapat kursi di DPR RI. “Jadi, secara teritorial, untuk Jabar timur, saya tidak rumit untuk melakukan pemetaan,” ujarnya.

Ditanya apa alasan dirinya tertarik ikut pilgub, kiayi yang akrab disapa Kang Haji Asep ini mengungkapkan, semuanya karena alasan ibadah semata. “Dalam mengarahkan masyarakat Jabar, kalau dengan tausyah, mesti beberapa kali ceramah dan ganti-ganti tempat. Tapi kalau dengan kekuasaan kita bermain di anjuran. Dan, itu akan lebih mudah serta efektif,” sebutnya.

Apalagi, masih kata Asep, kata “kiayi” kalau menurut ayahandanya (alm. Choer Affandi) memiliki akronim kokolot, ideologi, agama dan Islam. Sehingga dirinya berkesimpulan, tugas kiayi akan lebih mudah kalau jadi pemimpin.

Apakah dirinya yakin kalau pada akhirnya Ridwan Kamil memang akan menunjuk dia sebagai pendampingnya, Asep menjawab, “Wallohu (hanya Alloh yang tahu). Hanya saja, sampai saat ini dari gerak tubuh serta bahasanya masih mengarah ke saya. Atau juga bisa sebaliknya. Saya yang cagub, Ridwan Kamil wakilnya. Apa itu tidak mungkin?”.

Hanya saja, kalau dirinya sampai jadi calon, baik itu cagub maupun cawagub, dirinya akan berjuang habis-habisan karena ini pertempuran kekuasaan. Alasannya, ya itu tadi. Tugas kiayi akan lebih mudah kalau jadi pemimpin,”

Disinggung, bukankah di tubuh PPP juga ada satu sosok yang disebut-sebut akan ikut mencalonkan yakni, Bupati Tasikmalaya, H U Ruzhanul Ulum (H Uu), Asep pun menjawab diplomatis. “Kita flashback dulu,” timpalnya.

Lantas ia memaparkan, di 2015, ketika H Uu nyalon di pilbup, PPP tidak dalam posisi mengusung karena saat itu terjadi sengketa/dualisme kepengurusan sehingga saat itu Uu diusung PDIP, PAN, PKS dan PKB. Nah kalau Uu nyalon ke pilgub, artinya, wakilnya (Ade Sugianto-PDIP) akan naik menjadi bupati. Apalagi, jika Uu nyalon, PPP tidak bisa memasukan kadernya ke posisi wakil bupati karena alasan tadi, di 2015, PPP tidak dalam posisi mengusung.

Maka, atas pertimbangan itu, PPP tentu tidak akan rela melepaskannya begitu saja. Caranya, dengan tidak mencalonkan Uu. “Masa moro julang ngaleupaskeun peusing. Di sinilah terungkap kenapa Ketum (Romahurmuziy) menawari saya, tidak Uu Ruzhanul Ulum,” papar Asep.

Sebelum menutup pembicaraannya, anggota Majelis Pertimbangan DPP PPP ini menyampaikan, kalau Alloh menakdirkan dirinya jadi pemimpin Jabar, dirinya tidak akan jual janji. Ia hanya akan bekerja sesuai kebutuhan real masyarakat. Istilahnya kondisional. “Seperti contoh, berbicara faktor kesehatan di Jabar, tidak dalam masalah pelik karena kesadaran masyarakatnya cukup tinggi. Akan tetapi bukan saya akan menafikan, hanya saja ada hal sekunder, ada hal primer. Pokoknya bekerja berdasarkan kondisional,” imbuhnya. ter


Suka dengan artikel ini?, silahkan begikan dan tinggalkan komentar terbaik anda:
Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account