Estafet Kepemimpinan Dinanti Tuntaskan Garapan Lama

Pemkot Tasikmalaya

Politik
Peralatan
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Pada 17 Oktober 2017 ini, Kota Tasikmalaya, genap memasuki usia 16 tahun.

Seperti biasanya di momentum ulang tahun kerap jadi momen introspeksi. Mengevaluasi perjalanan peran hingga capaian kinerja peyelenggara daerah. Tentunya lagi, beberapa capaian positif sudah dibukukan pemerintah, dalam kurun 16 tahun ini.

Namun, tak sedikit pula pekerjaan rumah (PR) dalam 16 tahun terakhir pun masih jadi kejaran bisa ditangani. Salah satu isu akrab dengan pemkot ini di penanganan masalah rasio penduduk dalam klasifikasi miskin. Pada potret lain upaya pemerintah, membangun kapasitas infrastruktur jalan dan irigasi yang sedikit mencolok.

Konsepsinya, percepatan garap infrastruktur jalan atau transportasi pada beberapa tahun terakhir, dijadikan fokus garap tahunan, guna membawa kelancaran aktivitas, ekonomi, serta kegiatan distribusi logistik. Buka-bukaan ruas jalan baru, diharapkan memunculkan titik-titik pertumbuhan anyar daerah.

Perjuangan itu masih ditampakan dengan langkah besar mewujudkan kehadiran bandara komersial di sekitar Pangkalan Udara (Lanud) Wiriadinata. Lalu lintas udara setelah dibuka Tasik-Jakarta, cukup padat. Berpotensi menyokong hadirnya investasi, setidaknya kemudahan tercipta untuk mereka yang hendak bertandang, berbisnis, ke kota “Resik”.

Capaian yang tak bisa dielak untuk fokus garap infrastruktur, bahkan sampai pelosok/lingkungan pemukiman penduduk. Yang tak bisa tertinggal catat, di perjalanan usia 16 tahun ini, Kota Tasik masih belum terlepas dengan keadaan jumlah penduduk miskinnya yang masih “mentereng”.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan penduduk Kota Tasikmalaya, pada tahun 2015 sebesar 15,95%, yang kemudian naik jumlahnya menjadi 16,28%, di tahun 2016. Namun di tahun berikutnya kembali menurun, menjadi 15,60%.

Meski menurun sekitar satu digit, yang tak bisa terbantah dengan jumlahnya itu, data secara (wil) Jawa Barat, itu kemudian memosisikan Kota Tasikmalaya, sebagai kota termiskin di Provinsi Jawa Barat.

Sedari awal kepemiminan H Budi-H Dede, menyatakan tekadnya untuk bisa menurunkan rasio angka penduduk miskin ini dalam perhtungan satu digit setiap tahun. Dalam lima tahun bisa lima digit. Namun, sepertinya tekad itu masih perlu lanjutan ikhtiar. Di tengah ada penilaian bahwa tak mudah menurunkan angka itu sehubungan Kota ini jadi tujuan warga urban. Dengan nasib tertinggalnya, mereka lantas terdata hidup dalam garis kemiskinan.

Momentum  Hari Jadi tahun ini, merupakan peringatan terakhir masa kepemimpinan H Budi Budiman - H Dede Sudarajat. Tapi akan jadi lembaran lanjut bagi H Budi Budiman yang memenangi kompetisi di Pilwalkot Februari 2017 lalu. Ia kini berpasangan dengan HM Yusuf, menakhodai pemerintahan Kota Tasik hingga tahun 2012.

Pada konteks capaian lainnya, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Ir H Tarlan mengungkapkan, secara umum untuk ukuran menilai hasil pembangunan yang tertuang dalam indeks pembangunan manusia (IPM) di Kota Tasik, setiap tahunnya mengalami tren positif.

Pejabat ini misal menerangkan, pada tahun 2015 IPM Kota Tasik di angka 69,99. Kemudian di tahun 2016, meningkat menjadi 70,58. Dalam pengukuran IPM ini di dalamnya mencakup tiga parameter yakni, di sektor kesehatan, pendidikan, dan ekonomi (daya beli).

Garapan IPM dalam pelayanan kesehatan memosisikan capaian indeks 79,03. Angka ini  di atas raihan rata-rata Jawa Barat. Untuk indikator pendidikan, acuannya adalah rata-rata lama sekolah, pemerintah menargetkan rata-rata lama sekolah 9 tahun, dan saat ini capaiannya baru 8,96. Masih kurang berapa digit itu, artinya masih ada anak yang tidak mampu melanjutkan pendidikan hingga jenjang SMP.

Untuk indikator daya beli, seiring potret perekonomian Kota Tasikmalaya yang perkembangannya terlihat cukup signifikan, jika di tahun 2015 di angka 6,30%, memasuki tahun 2016 menjadi 6,91%. Namun pada catatan lain, masih terjadi potret kesenjangan ekonomi antara yang mampu dan kurang mampu, hingga tersimpulkan perkembangan perekonomian warga belum merata di semua lini.

Garapan infrastruktur

Mengungkapkan capaian kerja infrastruktur jalan, berupa penambahan panjangan jalan, di tahun 2012 tercatat sepanjang 395,66 kilometer, sampai tahun 2016 bertambah menjadi 402,26 kilometer. Untuk ukuran berkondisi (jalan) baik, sepanjang 441,26 kilometer. Penunjangnya dalam penambahan drainase, di tahun 2012 sepanjang 14.000 meter, kini bertambah menjadi 20.942 meter.

Tentu tak hanya fokus menyentuh infrastruktur jalan. Tapi pemerintah kota ini juga menggagas program bantuan langsung kepada masyarakat, seperti pemasangan listrik gratis. Sepanjang 2013-2016 sudah terpasang 11.445 titik/kelurga penerimanya. Selain itu, kegiatan rehabilitasi rumah tidak layak huni, di kurun waktu yang sama sebanyak 2.355 unit.

Memerhatikan kebutuhan pemenuhan sarana pelayanan kesehatan yang terus meningkat sejauh ini, garapan pemkot melakukan pembangunan dan rehabilitasi sejumlah gedung sarananya, seperti pembangunan ruang rawat inap kelas III RSUD dr Soekardjo, gedung Hemodialisa yang saat ini tengah dibangun, beberapa unit perkantorannya, termasuk pembangunan sembilan bangunan puskesmas.

Data lain yang diperoleh Tasikplus, pemerintah masih belum berpuas diri dengan berbagai capaian pembangunan. Meyakini masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang perlu diselesiakan segera. Seperti di antaranya masih ada sarana dan prasarana pendidikan yang belum memadai. Tingginya angka kematian ibu, belum optimalnya penyelenggaraan pelayanan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin.

Selain itu, terdapat beberapa area/kawasan yang mengalami genangan ketika hujan lebat, masih luasnya kawasan permukiman kumuh yang belum tertangani dengan baik, penanganan sampah yang belum optimal, PKL yang belum tertata dengan baik, maraknya pendirian toko modern/mini market yang belum memliki izin, dan yang terakhir adanya alihfungsi lahan pertanian produktif .

Warga Kota Tasik pastinya berharap, estafet kepemimpinan berikutnya bisa menuntaskan garapan-garapan yang menjadi sejumlah PR. Hingga diselesaikan dengan baik. Adapun untuk rencana program fokus berikutnya, kata H tarlan, saat ini masih dalam tahap pembahsan pra-RPJMD. Sedang disusun itu disesuaikan dengan visi-misi pemimpinan Kota Tasik berikut ini. Targetnya, minimal enam bulan setelah pelantikan sudah ditetapkan menjadi RPJMD. pid


Suka dengan artikel ini?, silahkan begikan dan tinggalkan komentar terbaik anda:
Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account