Asumsi Golkar Pasca-Kasus Setnov

Partai Politik
Peralatan
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Klimaks perahara menimpa Partai Golkar. Ketua umumnya tersangkut perkara hukum ditangani KPK.

Kemudian, internal partai ini dalam opsi menggelar Musyawarah Luar Biasa (Munaslub) 2017, dan memosisikan sosok Ketua Umum yang baru, Airlangga. Berulang kena goyangan partai ini, termasuk sebelumnya terlarut pengaruh kemunculan dualisme kepemimpinan.

Terlihat ada sikap cepat menanggapi persoalan hukum yang menimpa Ketua Umum, Setya Novanto dengan munaslub. Seperti sudah jadi atensi kalangan elite hingga kader partai di depan mata siap terhelat hajatan politik kepala daerah, hingga pileg di 2019. Kejar dan raih kekuasaan merupakan orientasi percaturan puncak politik.

Kehebohan Setnov kena jerat tuduhan penyalahgunaan program e-KTP, luar biasa. Apalagi yang kali ini sebagai rangkaian kedua penetapan oleh KPK. Di penetapan awal dimentahkan proses praperadilan yang dimenangkan Setnov dengan penetapan status tersangkanya. Berikutnya, kembali KPK menetapkan sangkaan lagi pada Setnov.

Sorotan yang hebat dengan kasusnya, membuat ketenaran negatif yang tak kalah kuat dengan latar belakang proses hukum itu. Tak ayal situasi itu banyak kalangan kaitkan dengan potensi turunnya simpati masyarakat terhadap hajatan politik, elite/politisinya juga.

Kemungkinan kuat lagi dengan elektabilitas masyarakat untuk partai berlambang pohon beringin itu. Dua hajatan politik terdekat, Pilgub Jabar di 2018, kemudian Pilpres di 2019. Di soal kemungkinan itu pun tak disangkal oleh Ketua DPD Golkar Kota Tasikmalaya, HM Yusuf.

Catatan Yusuf, tingkat keterpilihan (elektabilitas) partainya di Jabar sudah tinggi. Bisa berubah nanti. “Elektabilitas Golkar di Jabar kan tadinya sudah cukup tinggi ya, yakni di angka 18,9%. Namun setelah kasus Pak Setnov menguat, bisa jadi elektabilitasnya turun, sampai di angka 12%,” ungkap Yusuf.

Dengan prahara yang menimpa Partai Golkar, tentunya kader partai ini coba lakukan langkah-langkah antisipasi. Hingga kegiatan survei menghasilkan angka-angka. Pengurus Golkar se-Jabar, sebut Yusuf, bukan tidak melakukan upaya dalam memertahankan elektabilitas. “Khususnya Ketua DPD Golkar Jabar. Beliau sudah sangat berusaha, namun begitu sulit,” katanya.

Termasuk langkah-langkah dan buah kekhawatiran atas elektabilitas partai yang merosot, lanjut Yusuf,  dengan munculnya gerakan dari DPD 1 (provinsi) yang mendorong munaslub dan berujung penggantian posisi ketum.

Saat ditanya seputar tanggapannya dengan penetapan tersangka Setnov, cukup menyakitkan bagi Golkar, namun Yusuf sempat memuji kerja KPK yang serius memberantas korupsi. Apakah murni pengungkapan kasus korupsi atau dilatarbelakangi intrik politik? Yusuf dalam pernyataan, mengaku tidak tahu. Lalu, meyakini dengan besarnya desakan pada KPK menanganinya sampai tuntas. (ter)


Suka dengan artikel ini?, silahkan begikan dan tinggalkan komentar terbaik anda:
Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account