Rumah Sakit Bantah Lengah Kelola Limbah Medis

RSUD Kota Tasikmalaya | Ilustrasi

Kesehatan
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Manajemen Rumah Sakit (RS) Jasa Kartini membantah, telah membuang sampah serampangan dengan sengaja. Begitu pun dituding tak memiliki sistem pengolahan sampah medis. Sebaliknya, RS ini merasa selama ini kinerjanya sudah memenuhi standar pelayanan, tentunya di pengelolaan limbah sebagaimana dipersayaratkan prosedur/aturan.

"Bicara SOP (standar operating procedure), ya kita jelas sudah penuhilah. Tak mungkin kita mengabaikan peraturan untuk kegiatan pelayanan medis begini," ujar Wadir Umum RS Jasa Kartini, Gingin Ginanjar SKM, kepada Tasikplus, Rabu pekan kemarin. Prosedur atau aturan yang dimaksudnya yaitu, Permenkes Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.

Diungkapkan Gingin, di balik operasional pelayanan pengobatan rumah sakit, dihasilkan beberapa jenis limbah seperti limbah padat/logam, cair dan gas. Pada persepsi lain Gingin, limbah itu pun masih terbagi dua kelompok, ada limbah medis dan nonmedis. Ada standar penanganan untuk kedua kelompok limbah.

"Yang jelas peyiapan penanganan limbah ini sedari melakukan analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal), penempatan unit pengelola sampah (UPL), dan UKL, kemudian seperti dipersyaratkan untuk limbah padat/logam, sudah kita tangani dengan penanganan melibatkan rekanan khusus di bidangnya, PT Medives," papar Gingin.

Pengelolaan limbah oleh rekanan itu, halnya populer menempatkan satu alat pembakaran limbah medis bersuhu tinggi, sampai 6.000 derjat celcius. Yang diabsen Gingin lagi di soal institusinya mengoperasikan alat lain untuk melenyapkan sampah secara sungguh-sungguh dan tuntas melalui insenerator.

Saat ditanyakan, faktanyak ada temuan pekerja kebersihan Dinas Cipta Karya yang sekaligus jadi korban limbas medis infeksius ketika mengangkat sampah dari rumah sakitnya, Gingin menegaskan, untuk temuan tersebut justru pihaknya tengah melakukan investigasi bagaimana itu bisa lolos.

"Saya tak bisa mengelak jika ada kejadian seperti. Mendengar kabarnya, kini kita sedang selidiki kalau-kalau benar. Kemungkinan adanya human error (kesalahan orang), ya bisa saja. Yang pasti ini tengah kita telusuri, di mana letak kesalahannya," jelas dia.

Seperti diberitakan pada edisi sebelum ini, pekerja kebersihan Kota Tasikmalaya, menemukan pembuangan sampah medis ke luar rumah sakit, di area sekitar RS Jasa Kartini. Buntutnya, malah ia terlukai tangannya sampai bengkak saat mengangkut-angkut sampah di situ. Mendapati indikasi penanganan sampah menyalahi prosedur, pejabat bidang Kebersihan Dinas Cipta Karya, langsung melayangkan surat teguran ke RS ini. Namun, ikhwal adanya surat dari Dinas Cipta Karya, pejabat rumah sakit di Jl.Otista Kota Tasikmalaya itu, mengaku belum menerimanya.

Wali Kota Imbau

Wali kota Tasikmalaya, H.Budi Budiman, mengimbau seluruh institusi layanan kesehatan, mulai klinik, puskesmas sampai rumah sakit memperhatikan pengelolaan limbah medis. "Aturannya jelas, lembaga pelayanan medis tak bsa asal buang sampah medis sembarangan," tegasnya.

Imbauan wali kota menyusul penemuan tumpukan limbah rumah sakit, belum lama ini oleh petugas kebersihan yang biasa mengangkut sampah. "Saya sudah melakukan koordinasi dengan instansi terkait, khususnya Dinas Kesehatan agar dapat mengarahkan institusi kesehatan ini tidak membuang limbah seperti jarum suntik bekas, dan sampah infeksius lainnya sembarangan. Karena dapat membahayakan kesehatan, menebar penaykit berbahaya bagi siapa saja," aku Budi.

Bagi rumah sakit yang kedapatan membuang limbah sembarangan, sambungnya, pemkot akan memberikan surat peringatan. Jika peringatan masih tak diindahkan juga, tentu bukan teguran lagi melainkan sanksi setimpal. T-01/T-25


Suka dengan artikel ini?, silahkan begikan dan tinggalkan komentar terbaik anda:
Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account